Kerjasama Pemkab Cilacap Kelolaan Sampah Metode RDF, Hasilkan Bahan Bakar Alternatif

Bupati Tatto S. Pamuji (berkemeja putih) berjabat tangan dengan perwakilan PT. SBI usai penandatanganan kesepakatan kerjasama pengelolaan RDF, Selasa (21/1). (Foto: Pemkab Cilcap)

Jeruklegi – Kepastian pengelolaan sampah akhirnya diperoleh setelah Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji menandatangani kesepakatan bersama pengelolaan RDF, dengan PT. Semen Indonesia di Jakarta, Selasa (21/1). Maka, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refused Derrived Fuel (RDF) yang berlokasi di Desa Tritih Wetan, Kecamatan Jeruklegi, bakal segera beroperasi.

Bentuk kerjasama yang disepakati yakni penyelenggaraan TPST dengan teknologi pengolahan fisika dan biologi berupa penerapan RDF. Teknologi ini mampu mengolah 120 ton sampah per hari menjadi 40-50 ton produk RDF. Produk semacam briket ini menjadi pengganti batubara untuk kegiatan operasional PT. Solusi Bangun Indonesia.

Keuntungan produk RDF cukup bermanfaat karena dapat digunakan menjadi bahan bakar alternatif. Bupati mengapresiasi keberadaan RDF di Kabupaten Cilacap. Sebab fasilitas ini mampu menjawab masalah sampah yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah.

“Ini selaras dengan komitmen Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi yang telah mencanangkan program pengelolaan sampah menjadi energi”, kata Bupati.

Wewenang, tanggung jawab pengelolaan, pengoperasian, pemeliharaan dan pengamanan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Cilacap setelah dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) fasilitas RDF oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Bupati Cilacap telah dilakukan pada 19 Desember 2019 di Jakarta.

Seperti diketahui, TPST RDF berdiri pada tempat penampungan akhir (TPA) Tritih Lor Jeruklegi. Penerapan sistem control landfill atau sanitary landfill di TPA tersebut dipandang tidak efisien. Meski dapat mengolah berbagi jenis sampah, para pemulung masih berkesempatan mengambil material-material yang masih memiliki nilai ekonomis.

RDF Teknik Penanganan Sampah Mengubah Menjadi Bahan Bakar

Peningkatan jumlah timbulan sampah menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan. Untuk menghindari terjadinya kekurangan lahan perlu dilakukan penanganan pada sampah yakni dengan mengubah sampah menjadi sumber energi seperti bahan baku RDF (Refused Derived Fuel).

RDF merupakan salah satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu bahan bakar. Sampah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku RDF dengan cara menganalisis nilai kalor yang dihasilkan.

Terdapat 2 terminologi nilai kalor yang biasa digunakan yaitu Nilai Kalor Tinggi dan Nilai Kalor Rendah. Nilai Kalor Tinggi, di mana keberadaan air dan hidrogen setelah pembakaran terjadi adalah pada keadaan terkondensasi pada produk. Sementara Nilai Kalor Rendah adalah nilai kalor di mana diasumsikan air dan hidrogen berada dalam fasa uap

RDF dikenal sebagai bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari sampah mudah terbakar, seperti sampah plastik, karet dan kulit, tekstil, kayu, kertas, resin sintesis, lumpur pengolahan air limbah dan lumpur olahan.

Pengolahan sampah perkotaan dengan energi panas meliputi insinerasi, pirolisis, dan gasifikasi. Insinerasi dilakukan dengan menggunakan sebuah sistem recovery energi. Energi yang ditimbulkan dihitung berdasarkan nilai kalor/panas sampah yang lebih rendah (Lower Heating Value/LHV) yang diasumsikan untuk efisiensi energi dan penggunaan energi internal adalah 18% dan 15% dari energi listrik yang dihasilkan.

Kalor minimal untuk menjadikan suatu bahan menjadi bahan bakar atau sebagai sumber panas, maka bahan tersebut harus memiliki kalor minimal 2-2,5 kkal/ton, sehingga cuplikan sampah tersebut dapat memenuhi kalor minimal untuk menjadikan suatu bahan menjadi bahan bakar atau sebagai sumber panas (Damanhuri, 2016).

Pengelolaan Sampah Melalui Metode 3R (Reuse, Reduce, Recycle)

Sedangkan untuk organik kering seperti kertas, kayu dan anorganik seperti plastik, kaca, besi dapat dimanfaatkan kembali melalui mekanisme 3R (Reuse, Reduce, Recycle), Annisa (2015) menyatakan bahwa sampah di TPA berpotensi untuk bahan baku RDF (Refuse Derived Fuel) yakni sebesar 27,62 % sampah mudah terbakar dan 24,63 sampah organik kering. RDF merupakan salah satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu bahan bakar.

Hal ini dapat dilakukan dengan peningkatan pemberdayaan masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya disertai komitmen Pemerintah Daerah untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat dan mengambil kebijakan strategis dalam menerapkan teknologi persampahan yang semakin berkembang.

Mekanisme 3R dapat mengurangi beban pada TPA dimana dapat memberikan solusi terhadap permasalahan berkurangnya masa pakai TPA dan sulitnya mendapatkan lahan untuk mewujudkan optimalisasi TPA dan efisiensi lahan.

Optimalisasi TPA dan penurunan beban TPA dapat dicapai saat implementasi komposting dan mekanisme 3R dapat diterapkan secara komprehensif terhadap sampah organik maupun sampah anorganik Kota Magetan. Dengan penerapan metode ini maka terjadi penurunan volume landfill dan efisiensi lahan TPA hingga Tahun 2025.