Uji Coba Mesin Pencacah Sampah oleh Bupati Banyumas

Bupati Banyumas Uji coba mesin pencacah dan pemilah sampah akhirnya bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas, Sabtu(18/01). (Foto: Pemkab Banyumas)

Banyumas – Uji coba mesin pencacah dan pemilah sampah akhirnya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas, Sabtu(18/01) di halaman belakang rumah dinas Bupati Banyumas.

Mesin pencacah ini menghasilkan bubur sampah organik, Refuse Derived Fuel (RDF) atau plastik yang mudah terbakar dan residu. Proses pencacahan, sampah baik organik dan anorganik, dimasukan ke mesin pencacah, selanjutnya dimasukan ke mesin pemilah. Kegiatan tersebut sebagai upaya mengatasi masalah sampah, yang masih sering timbul di Kabupaten Banyumas.

“Alat yang digunakan terdiri dari dua mesin. Yakni mesin pertama merupakan pencacah sampah yang menghasilan sampah berukuran kurang lebih 5 CM. Kemudian dimasukan mesin kedua, sebagai mesin pemilah sampah, yang menghasilkan sampah organik berupa bubur, RDF dan residu,” ujar Bupati Banyumas Achmad Husein.

Bupati juga menambahkan bahwa hasil dari sampah mempunyai nilai ekonomi tinggi. Yakni bubur sampah organik bisa digunakan sebagai kompos, dan pakan maggot. Untuk RDF bisa digunakan sebagai bahan bakar pada industri semen. Bahkan sudah ada komitmen dua perusahan semen di Banyumas dan Cilacap, yang mau membeli RDF ini. Jadi semua jenis sampah bisa diolah, asalkan bukan logam. Alat ini saya rancang sendiri, dibuat di bekasi oleh teknisi disana. Dengan harga satunya Rp33 juta.

Bupati menambahkan. dalam sehari masyarakat Purwokerto, menghasilkan sampah sebanyak 90 truk rata-rata satu truknya memuat antara 3- 4 ton sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas Suyanto mengatakan alat ini diuji coba selama 30 hari. Dengan sampah yang diolah sekitar 1,5 ton. Nantinya jika hasilnya bagus, maka mesin tersebut akan ditempatkan di hanggar dan pusat daur ulang ( PDU).

“Kita akan melihat hasilnya seperti apa, termasuk kapasitas sampah yang diolah. Jika sudah selesai maka bisa dimanfaatkan masyarakat, melalui hanggar dan PDU,” jelas Suyanto.

Sebelumnya Bupati Banyumas Achmad Husein, telah memodifikasi mesin pembakar (tungku) pemusnah sampah. Mesin ini beberapa bulan telah diuji coba namun masih menunggu rekomendasi terkait gas emisi. Selain itu juga telah diuji coba, pengaspalan jalan dengan bahan campuran plastik.

Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Upayakan Kesadaran Menjaga Lingkungan

Peningkatan pertumbuhan penduduk menimbulkan banyak dampak negatif, salah satunya adalah tingginya penggunakan produk kemasan plastik. Kemasan produk dengan bahan plastik memiliki beberapa kekurangan diantaranya adalah tidak dapat terurai sendiri, oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan terhadap sampah plastik.

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat dilibatkan pada pengelolaan sampah dengan tujuan agar mayarakat menyadari bahwa permasalahan sampah merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, Cecep Dani Sucipto (2012).

Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengelolaan sampah masyarakat berbasis masyarakat yaitu sampah dikelola oleh masyarakat dan untuk masayarakat. Selain itu pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan sistem bank sampah yaitu sistem pengelolaan sampah dengan sistem menabung sampah yang identik dengan menabung uang di bank. Pengelolaan sampah ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan melibatkan seluruh warga masyarakat.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk merintis pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat yaitu dengan menyosialisasikan gagasan kepada masyarakat dan tokoh, membentuk tim pengelola sampah, mencari pihak yang bersedia membeli sampah (pengepul sampah), menyiapkan fasilitias yang diperlukan bersama-sama, melakukan monitoring dan eveluasi, melaporkan hasil-hasil program kepada komunitas, bekerjasama dan minta dukungan dengan pihak lain, Siti Marwati (2019).

Keuntungan pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat antara lain menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dengan benar, membangun kebiasaan dalam mengurangi, memilah dan mendaur ulang sampah, membuka peluang usaha dan masyarakat tidak harus membayar iuran untuk pengambilan sampah bahkan memberikan pemasukan untuk kas dusun atau organisasi lainnya. Manfaat yang paling penting adalah pengelolaan sampah mandiri dapat mengurangi polusi air, tanah dan udara serta sumber-sumber penyakit yang berbahaya.