Omah Sastra Ahmad Tohari Dorong Minat Generasi Muda terhadap Sastra

Peresmian Omah Sastra Ahmad Tohari bersama Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Periwisata (Dinporabudpar) Asis Kusumandani sebagai wakil dari Bupati Banyumas Achmad Husein yang diwakili oleh, Sabtu (25/1). (Pemkab: Banyumas).

Karangtengah – Peresmian Omah Sastra Ahmad Tohari bersama Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Periwisata (Dinporabudpar) Asis Kusumandani sebagai wakil dari Bupati Banyumas Achmad Husein yang diwakili oleh, Sabtu (25/1).

Omah Sastra Ahmad Tohari berada di wahana wisata alam Agro Karang Penginyongan (AKP), merupakan wisata edukasi yang berada di Grumbul Menggala Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas atau berjarak 25 km kearah barat kota Purwokerto.

Dalam sambutannya Bupati Banyumas Achmad Husein yang dibacakan oleh Kepala Dinporabudpar Asis Kusumandani menyambut baik dengan diresmikan Omah Sastra Ahmad Tohari. Omah Sastra Ahmad Tohari diharapkan menjadi tempat wisata sastra yang sekaligus mampu menggugah, menginspirasi serta meningkatkan minat kepada generasi muda terhadap sastra. Sehingga mereka akan memahami kultur keberagamaan.

“Sejak dini generasi muda perlu untuk diperkenalkan agar mengerti, memahami dan menghargai sastra secara sadar sehingga mereka dapat dapat menerapkan nilai nilai dalam kehidupan,” katanya.

Peresmian ditandai dengan pemukulan gong dan juga dimeriahkan dengan Sendra Tari Dukuh Paruk. Salah satu tujuan dibangunnya rumah sastra ini adalah untuk mewadahi dan melestarikan karya-karya seni dan sastra khususnya yang berkaitan dengan karya Ahmad Tohari dan budaya penginyongan.

Sementara itu Sastrawan Ahmad Tohari mengatakan saat ini budaya literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. Rendahnya literasi bangsa Indonesia ini juga disebut-sebut salah satu variabel penyebab ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Terkait hal itulah ia mendorong anak-anak muda tidak hanya membaca tetapi juga menulis.

“Di sini sedikit yang membaca, tetapi lebih sedikit lagi yang menulis. Makanya, urutan tingkat literasi Indonesia berada di angka 60. Sementara Malaysia bahkan sudah di tingkat 18. Jauh meninggalkan kita,” katanya.

Ahmad Tohari menambahkan sastra bisa mengasah kepekaan dan kemanusiaan. Bahkan penanaman karakter jauh lebih mudah melalui ilmu sastra.

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa

Pendidikan karakter merupakan isu strategis bagi perkembangan bangsa di tengah maraknya arus globalisasi yang telah banyak memberi perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam arus globalisasi yang berlangsung sangat cepat ini, perubahan yang terjadi justru memiliki kecenderungan mengarah pada krisis moral.

Sastra, sebagai produk budaya, memiliki potensi dalam mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa dengan menyuarakan nilai-nilai etika, norma, pendidikan dan pengajaran di dalamnya. Sastra memberi kesempatan dalam menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.

Hal ini disebabkan, karena karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai nilai-nilai kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter siswa. Sastra dalam pendidikan berperan untuk mengembangkan bahasa, aspek kognitif, afektif, psikomotorik, kepribadian, dan pribadi sosial siswa. Sastra sebagai media pembelajaran dapat dimanfaatkan secara reseptif dan ekspresif dalam pembentukan karakter.

Nilai-nilai moral seperti kejujuran, kepatuhan, kesantunan, keramahan, keberanian,kemandirian dan lain sebagainya banyak ditemukan dalam berbagai karya sastra, khususnya ceritaatau dongeng yang diperuntukkan untuk dibaca anak-anak. Dalam hal ini sastra merupakan salahsatu sarana dalam membentuk perwatakan atau karakter seseorang. Melalui artikel ini diharapkanpendidikan karakter bangsa dapat dicapai melalui pembacaan sastra sejak dini.

Sastra yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan karakter anak merupakan salah satu sarana untuk menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna dalam kehidupan. Setiap kita membaca sastra, sebetulnya kita akan mendapatkan tiga hal. Pertama, kesenangan, kedua, pegetahuan dan ketiga adalah nilai-niai atau norma. Itu sebabnya sastra tetap diperlukan dan terus menerus dibaca. Dengan membaca sastra kita diharapkan akan mampu memaknai hidup dan kehidupan seperti melalui karya yang kita baca tersebut. Dalam hal ini tentu saja diperlukan pemahaman akan perkembangan anak secara kognitif, sosial dan moral untuk menilai, memilih, dan mengapresiasi karya sastra yang ditulis dan diberikan untuk mereka, Dian Swandayani (2011).

Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.

Pada kegiatan menulis karya sastra, dikembangkan karakter yang tekun, cermat, taat, dan kejujuran. Sementara itu, pada kegiatan dokumentatif dikembangkan karakter yang penuh dengan ketelitian, dan berpikir ke depan (visioner).

Pemanfaatan secara reseptif dimaksud yaitu karya sastra sebagai media pembentukan karakter dilakukan dengan pemilihan bahan ajar dan pengelolaan proses pembelajaran. Adapun pemanfaatan secara ekspresif dimaksud yaitu karya sastra sebagai media pembentukan karakter dengan cara mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide, gagasan, dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis berupa novel dan cerpen, dan bermain drama, teater atau film. Oleh karena itu, siswa yang telah memahami sastra dapat mengalami pembentukan karakter menjadi lebih baik