Sumber Daya Alam Agrowisata Jambusari Jeruklegi Terus Dikembangkan

Kebun Buah Jambusari di Kecamatan Jeruklegi, potensial sebagai rintisan agrowisata di Kabupaten Cilacap, Jumat (17/11). (Foto: Pemkab Cilacap)

Jeruklegi, Cilacap – Pimpinan dan staf Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, Dinas Pertanian, dan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata berkunjung ke kawasan yang dikenal sebagai Kebun Buah Jambusari Cilacap, Jumat (17/1).

Kabupaten Cilacap memiliki berbagai potensi sumber daya alam, salah satunya pengembangan sektor agribisnis. Di Desa Jambusari Kecamatan Jeruklegi, yang berbatasan dengan Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas, terdapat rintisan sentra tanaman hortikultura. Kawasan ini dikembangkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, di atas lahan seluas 8 hektar untuk mendukung sektor pariwisata.

Kegiatan ini merupakan momen untuk berekreasi sembari berolahraga. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto menjelaskan, Kebun Buah Jambusari ini nantinya merupakan etalase hortikultura untuk menampilkan potensi berbagai buah-buahan lokal.

“Memang sudah ada beberapa jenis tanaman buah dan sebagian diantaranya sudah berbuah. Nanti akan kita optimalkan lagi, termasuk bagaimana manajemen pemasarannya”, katanya.

Kawasan ini merupakan lahan pertanian terpadu. Di dalamnya tidak hanya dikembangkan berbagai jenis tanaman buah dan palawija, tetapi juga terintegrasi dengan lahan peternakan domba. Ada 137 ekor domba yang dikembangbiakan di lahan tersebut, dan dikelola 8 kru serta tenaga harian Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap.

“Domba cepat dikembangbiakan. Tapi kami belum punya wewenang untuk pemasaran buah maupun ternak itu”, tambahnnya.

Meski belum dibuka secara resmi, kawasan tersebut kerap mendapat kunjungan dari sekolah sekolah untuk melakukan studi. Sementara itu Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap, Heroe Harjanto berharap, kawasan ini dapat terus berkembang dan menjadi salah satu destinasi wisata.

“Karena obyek wisata pantai kita telah lepas. Oleh karena itu kita harus membuat suatu terobosan baru dengan mengoptimalkan berbagai potensi yang ada”, kata Heroe.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, M. Wijaya menilai, sektor ini sangat potensial untuk dikembangkan mengingat letaknya yang sangat strategis di perbatasan. Namun perlu dilakukan pembenahan secara menyeluruh, termasuk melengkapi berbagai fasilitas untuk kenyamanan pengunjung.

Strategi Pengembangan Agribisnis yang Mendorong Kemajuan Ekonomi Masyarakat

Agribisnis merupakan paradigma baru yang telah digunakan dalam upaya-upaya pembangunan pertanian di Indonesia. Agribisnis diartikan lebih luas daripada bisnis yang dilaksanakan dalam lingkup on farm, menghasilkan produk pertanian semata.

Sistem agribisnis yang berdayasaing dicirikan oleh tingkat efisiensi, mutu, harga dan biaya produksi, serta kemampuan untuk menerobos pasar, meningkatkan pangsa pasar, serta memberikan pelayanan yang profesional, Yusman Syaukat 2009).

Pengembangan sistem agribisnis yang berdayasaing harus memperhatikan aspek permintaan maupun penawaran. Dalam hal ini, produk yang dikembangkan harus yang benar-benar berdayasaing dan dikehendaki pasar (market driven). Dengan demikian, pendekatan lama yang berorientasi pada supply driven – apa yang dapat diproduksi – perlu dibenahi.

Sistem agribisnis berkerakyatan dicirikan oleh berkembangnya usaha produktif yang melibatkan masyarakat secara luas, baik dalam peluang berusaha, kesempatan kerja, maupun dalam menikmati nilai tambah (pendapatan). Pengembangan sistem ini tidaklah berarti hanya pengembangan usaha kecil dan menengah saja, tetapi juga dapat melibatkan usaha skala besar dalam konsep kemitraan.

Pengembangan sistem agribisnis yang berkelanjutan merupakan usaha pengembangan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya agribisnis yang semakin besar dan mantap dari waktu ke waktu, dan semakin mensejahterakan masyarakat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Dalam hal ini, pelaku agribisnis tidak hanya melihat jangka pendek (myopic) saja, tetapi juga kepentingan jangka panjang yang mengakomodasikan pelestarian lingkungan hidup dan plasma nutfah (biodiversity).

Pengembangan agribisnis yang terdesentralisasi merupakan upaya-upaya pengembangan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan wilayah setempat, serta memiliki keunggulan kompetitif. Dengan demikian, pengembangan agribisnis pada dasarnya merupakan aktivitas pembangunan ekonomi lokal. Hal ini sesuai dengan esensi otonomi daerah, yakni melakukan desentralisasi dan pemerataan pembangunan yang berkeadilan.

Strategi pembangunan tersebut diwujudkan melalui dua pendekatan, yakni makro dan mikro. Pendekatan makro merupakan pendekatan sistem agribisnis, sementara pendekatan mikro merupakan pendekatan usaha-usaha agribisnis (firms). Dengan pendekatan sistem agribisnis tersebut, maka pertanian tidak lagi dilihat hanya pertanian primer (on farm) saja, tetapi juga mencakup seluruh sub-sistem.