Dinas Ketahan Pangan dan Perikanan Purbalingga Lakukan Studi Tentang Pengawasan Pangan

Daily Banyumas
Dinas Ketahan Panganan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga. (Sumber Foto: Dkpp Purbalingga)

Purbalingga – Menjamurnya bahan makanan yang mengandung zat berbahaya seperti formalin, boraks, zat pewarna pakaian serta zat berbahaya lainnya yang beredar di wilayah Kabupaten Purbalingga, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Purbalingga mengadakan studi tentang pengawasan pangan di Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Pekalongan pada Rabu (5/7).

Kepala DKPP, Sediyono mengatakan tujuan kunjungan studi tersebut untuk mengetahui bagaimana penanganan makanan yang berbahaya jika dikonsumsi masyarakat. Sebagaimana mana diketahui hasil dari uji cepat yang dilakukan Dinas Kesehatan baru-baru ini disemua pasar baik tradisional maupun modern ditemukan makan yang mengandung bahan berbahaya.

“Dari hasil kunjungan nantinya akan menjadi referensi tindakan-tindakan apa yg pernah dilakukan DPP Kota Pekalongan yang bisa diterapkan di Purbalingga, termasuk regulasinya,” kata Sediyono saat kunjungan di aula DPP Kota Pekalongan, dilansir dari laman resmi Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga.

Langkah selanjutnya menurut Sediyono akan dilakukan pembinaan kepada produsen yang menggunakan bahan berbahaya serta kepada pedagang besar (grosir) yang menjual makanan berbahaya. Sedangkan langkah panjangnya akan membuat perda tentang pelarangan makanan dengan bahan berbahaya serta akan melakukan optimalisasi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ada, serta berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

“Dengan optimalisasi tersebut diharapkan nanti Tim Pengawas Makanan bisa melakukan tindakan pencegahan dengan menyita bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya, sehingga tidak dikonsumsi oleh masyarakat,” katanya.

Kepala DPP Kota Pekalongan, Agus Jati Waluyo mengatakan kegiatan pengawasan makanan di Kota Pekalongan sudah ada regulasinya, yakni adanya Perda Nomor 7 Tahun 2013 tentang pelarangan bahan tambahan pangan berbahaya, serta adanya Perda tentang ketahanan pangan tahun 2015. Regulasi tersebut menjadi dasar Tim melakukan pengawasan makanan dari zat berbahaya sehingga ketahanan pangan menjadi kuat.

“Ketahan pangan itu sendiri ada tiga aspek yang harus terpenuhi yakni aspek ketersediaan, aspek distribusi, dan aspek keamanan,” katanya

Kemudian untuk implementasi di Pekalongan, kegiatan selain sidak ada rakor Tik Sistem Keamanan Pangan Terpadu (SKPT) 2 kali serta sosialisasi ke sekolah dan para pengusaha. Jika ditemukan pedagang yg tidak sesuai dengan standar keamanan pangan, barang dibawa dan di Pekalongan sudah punya PPNS, dengan harapan penjualan mengambil bisa dilakukan pembinaan.

“Pelaporan tindak pidana pernah kita lakukan terhadap produsen mi basah mengandung formalin, namun hasilnya belum memuaskan,” pungkasnya.

Dampak Bahan Tambahan Pangan terhadap Kesehatan

Pangan adalah suatu kebutuhan mendasar manusia karena memberikan pengaruh pada eksistensi dan ketahanan hidup dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Industri pangan di Indonesia dari tahun ke tahun berperan penting dalam pembangunan industri nasional. Pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi adalah syarat utama yang harus dipenuhi (Erniati dalam Suryana, 2003).

Menurut Jatmiko (2017) dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan dinyatakan bahwa pemerintah berkewajiban untuk menjamin terwujudnya penyelenggaraan keamanan pangan yang salah satunya dilaksanakan melalui pengaturan penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) untuk menjaga pangan yang dikonsumsi masyarakat tetap aman dan higienis.

Bahan tambahan makanan merupakan bahan kimia yang bukan merupakan bagian dari bahan baku namun makanan yang ditambahkan secara sengaja atau yang secara alami. Fungsinya untuk mempengaruhi dan menambah cita rasa, warna, tekstur, dan penampilan dari makanan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, No.329/MENKES/PER/1976 yang dimaksud zat aditif atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Termasuk didalamnya adalah pewarna, penyedap rasa dan aroma, pemantap, antioksidan, pengawet, pengemulsi, anti gumpal, pemucat dan pengental (Ratnani, 2009).

Dalam Jurnal Momentum Volume 5 No. 1 Tahun 2019, beberapa zat tambahan makanan diketahui dapat menginduksi reaksi hipersensitivitas pada orang yang rentan. Berikut ini adalah zat-zat tambahan makanan penyebab hipersensitivitas yang dikenal secara luas:

  1. Tatrazin, zat pewarna kuning yang dipergunakan secara luas dalam berbagai makanan olahan telah diketahui dapat menginduksi reaksi alergi , terutama bagi orang yang alergi terhadap aspirin.
  2. Sulfur dioksida , (SO2) dan zat kimia yang berhubungan, misalnya bisulfit dan metabisulfit, digunakan sebagai bahan pengawet dalam makanan olahan selain salad.
  3. Monosodium glutamat (MSG), telah digunakan sebagai bumbu penyedap selama puluhan tahun di Cina dan Jepang. Reaksi hipersensitivitas yang muncul antara lain adalah rasa panas, rasa tertusuk-tusuk diwajah dan leher, dada sesak dll.

Sebagian besar bahan yang dilarang digunakan sebagai BTP ini baru dirasakan dalam jangka panjang, tidak memberikan dampak negatif secara singkat terhadap kesehatan. Dulsin, DEPC dan Kalium Bromate merupakan senyawa karsinogen yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit kanker. Namun ada beberapa bahan kimia memberikan dampak negatif secara langsung terhadap tubuh terutama apabila dikonsumsi dalam dosis berlebih seperti asam salisilat dan formalin.