Bantuan Pemerintah terhadap Daerah Terkena Bencana

Kunjungan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen kepada Mahmud, warga Desa Karangsalam, Kecamatan Kemranjen, Kebupaten Banyumas, yang menjadi korban rumah ambruk tertimpa pohon, Senin (13/1). (Foto: Pemkab: Banyumas.

Kemranjen –Mahmud, warga Desa Karangsalam, Kecamatan Kemranjen, Kebupaten Banyumas, yang menjadi korban rumah ambruk tertimpa pohon akhirnya dikunjungi oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Dalam kunjungan yang dilakukan Senin (13/1) itu, Gus Yasin, sapaan Wagub, mendengarkan cerita Mahmud yang selamat, meski rumah yang dihuninya bersama istrinya Rohmini luluh lantak.

Peristiwa tersebut terjadi berdasarkkan penuturan Mahmud, sekitar pukul 14.00. Waktu itu ia bersama istrinya berada di dalam rumah saat hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Karangsalam dan sejumlah daerah lain di Kabupaten Banyumas.

“Kejadiannya sekitar pukul 14.00, waktu hujan deras dan angin kencang. Terus pohon sengon di dekat rumah tumbang menimpa rumah. Saya ada di situ (dalam rumah) saat kejadian. Untung tidak apa-apa, hanya memar di sini (dahi) dan di sini (tangan),” ujar Mahmud.

Setelah cerita singkatnya itu, Mahmud juga menunjukkan kayu pohon sengon abasia yang menimpa rumahnya. Pohon itu sudah dipotong-potong dan diletakkan di pojok. Sementara sisa reruntuhan rumah masih tampak di sekitar lokasi.

“Ini nanti kita bantu untuk dibangun lagi rumahnya. Kami juga minta pohon besar lain di belakang untuk ditebang karena sudah terlalu tinggi. Secepatnya nanti gotong royong dari warga desa, termasuk menggerakkan karang taruna untuk membantu membangun rumah. Untuk sementara ini Pak Mahmud tinggal di rumah sementara,” katanya.

Wagub Gus Yasin sudah meminta kepada Kepala Desa Karangsalam dan dari Pemkab Banyumas untuk membantu pembangunan rumah milik Mahmud. Ia juga meminta kepada Mahmud untuk menebang pohon abasia lain di belakang rumah sebelum tumbang karena angin.

Terkait potensi rawan yang ada di Kabupaten Banyumas, seperti angin kencang, puting beliung, banjir, hingga longsor, Gus Yasin mengimbau kepada warga agar terus waspada. Jika ada pohon yang terlalu tinggi dan rawan tumbang, lebih baik ditebang.

“BPBD itu kan fasilitator saja kan, yang lebih utama adalah masyarakat itu sendiri bergerak untuk tanggap bencana. Potensi bencana di Banyumas ini banjir, longsor, kekeringan, dan angin kencang. Kalau warning system dan langkah pertama penanganan bencana sudah baik, insyaallah bisa dihindari,” pungkasnya

Peran Pemerintah, Swasta dan Mayarkat dalam Membangun Desa Tangguh Bencana

Faktor utama timbulnya banyak korban akibat bencana gempa bumi adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bencana dan kesiapan mereka dalam mengantisipasi bencana. Sekolah merupakansalah satu media transformasi ilmu pengetahuan yang paling efektif dalammenyerap dan mengaplikasikan pengetahuan kesiapan menghadapi bencana dengan menggunakan metode yang tepat dan benar.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan pada pasal 35 dan 36 agar setiap daerah dalam upaya penanggulangan bencana, mempunyai perencanaan penanggulangan bencana. Secara lebih rinci disebutkan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.

Untuk mendukung berdirinya Desa Tangguh Bencana, perlu dilakukan pelatihan-pelatihan kebencanaan yang rutin hingga mencapai seluruh lapisan masyarakat. Menjadi tugas pemerintah dan semua pihak untuk menciptakan masyarakat yang memiliki pengetahuan, pemahaman, ketrampilan serta peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebencanaan atau disebut dengan istilah ”sadar bencana”. Dalam upaya membangun masyarakat atau komunitas yang sadar bencana ini, pendidikan kebencanaan menjadi pintu masuk yang cukup penting dan strategis.

Penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana merupakan tangung jawab semua pihak, karena bencana dapat mengenai siapa saja tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, kerjasama antar pemerintah dan pihak-pihak non pemerintah merupakan suatu hal yang penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Proses pembentukan desa tangguh bencana harus melibatkan masyarakat, organisasi masyarakat, pemerintah, non pemerintah, serta pihak swasta.

Dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap suatu program yaitu pentingnya peran serta lembaga baik lembaga pemerintah atau non pemerintah. Masyarakat diberikan sosialisasi tentang desa tangguh bencana yang sering disebut forum pengurangan risiko bencana, kemudian masyrakat beserta Pemerintah desa, BPBD Kabupaten, BPBD Provinsi maupun pihak swasta , dan lembaga non pemerintah membuat secara bersama untuk menentukan fokus program dan kegiatan serta pelaku penanggulangan bencana.

Ramli Daud, dkk (2014) dalam penelitiannya mengatakan bahwa salah satu faktor utama penyebab timbulnya banyak korban akibat bencana seperti gempa bumi adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bencana dan kesiapan mereka dalam mengantisipasi bencana tersebut. Selain itu, adanya korban dikarena kan tertimpa reruntuhan akibat bangunan yang roboh. Diantara korban jiwa tersebut, paling banyak adalah wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, mempersiapkan pengetahuan tentang kebencanaan sejak dini kepada masyarakat yang rentan bencana serta kesiapsiagaannya adalah sangat penting untuk menghindari atau memperkecil risiko menjadi korban.

Pelatihan siaga bencana perlu dikembangkan mulai tingkat pendidikan dasar untuk membangun budaya keselamatan dan ketahanan khususnya untuk anak-anak dan generasi muda. Belajar dari pengalaman tentang banyak-nya kejadian bencana alam dan berbagai bahaya yang terjadi di Indonesia, maka pelatihan tersebut sangat diperlukan yang mencakup tentang cara yang tepat untuk menyelamatkan diri saat bencana terjadi dan juga cara menghindari kecelakaan yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam kehidupan sehari-hari.