Gus Yasin Mengarahkan untuk Madin dan MI-MTs Harus Kolaborasi

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen berharap Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) agar mengolaborasikan Madrasah Diniyah (Madin) dengan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), Minggu (12/1). (Foto: Pemkab Banyumas)

Banyumas – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen berharap Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) agar mengolaborasikan Madrasah Diniyah (Madin) dengan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Hal itu untuk meredam keresahan terkait pengakuan Madin atau madrasah pondok pesantren dengan MI-MTs. Ia juga meminta agar NU tidak minder karena memiliki kebanggaan yang harus dipertahankan.

“Ada keresahan tentang pengakuan Madin dengan yang formal. Formal yang dimaksud adalah MI-MTs. Ini juga harus dikolaborasikan karena memang posnya berbeda-beda, bidangnya berbeda,” kata pria yang akrab disapa Gus Yasin ini, saat memberikan pengarahan dalam acara Naharul Ijtima’ dengan tema “Silaturrahim Masyayikh NU Kultural dan Struktural untuk Kemaslahatan Umat, Bangsa, dan Negara”, di Pondok Pesantren Anwarus Sholihin, Banyumas, Minggu (12/1).

Dia menjelaskan, keresahan itu muncul ketika mulai banyak masyarakat yang memilih tidak menyekolahkan anaknya di Madin dan hanya memilih di MI-MTs saja.

“Padahal sisi-sisi yang tidak dimiliki oleh MI dan SD saat itu justru diperoleh dari Madin, TPQ, dan Pondok Pesantren,” jelas mantan anggota DPRD Jawa Tengah ini.

Mengenai satu metode kesepakatan mengenai Madin dan Pondok Pesantren, Gus Yasin masih menunggu siapa yang akan memunculkan ide tersebut. Sebab, ketika pemerintah provinsi yang memunculkan ide tersebut pasti akan muncul anggapan kalau pemerintah mengintervensi lembaga.

“Saya menunggu siapa yang memunculkan. Saya sudah dianggap dari Pemerintah, kalau saya yang memunculkan pasti banyak anggapan pemerintah mengintervensi. Tapi alhamdulilah tadi katanya sudah ada di meja PWNU, jadi saya menunggu kesepakatan itu dimunculkan oleh NU,” terangnya.

Setelah kesepakatan yang telah diikrarkan oleh Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU) maka tinggal menunggu hasil kolaborasi RMI dengan FKPP atau pembuat kurikulum di MI-MTs. “Bagaimanapun itu serumpun,” ungkap Wagub.

Selain itu, dia juga berpesan kepada NU agar tidak minder dan tetap menjaga kebanggaan dengan apa yang telah dimiliki selama ini. Terlebih NU dengan para Masyayikh telah menjadi bagian sejarah kemerdekaan Indonesia.

“NU tidak boleh minder, harus percaya diri. Kita punya sejarah dari resolusi jihad yang kemudian menjadi hari santri. Lalu soal istilah-istilah yang sudah NU miliki, kita lebih dulu memakai istilah itu kalau di tempat lain menggunakan itu kita harus tetap menjaganya dengan memperjelas dengan karakter NU. Itu yang pemerintah tunggu. Pemprov juga ingin lebih dekat dengan NU dengan hal-hal yang sudah dimiliki,” tandas Gus Yasin.

Peran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kualitas Madrasah

Madrasah merupakan satuan pendidikan formal dibawah naungan Menteri Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum dan kejuruan dengan kekhasan agama Islam yang meliputi Raudhotul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

Suatu terobosan dalam mewujudkan tujuan pendidikan adalah dengan cara meningkatkan fungsi dan peran kepala madrasah untuk menciptakan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan dengan beragam tingkat pengetahuan, kemampuan serta nilai atau sikap yang memungkinkan untuk menjadi warga masyarakat dan warga Negara yang bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, beriman dan berbudi pekerti luhur, Dani (2007: 205).

Kepala Madrasah dikatakan sebagai pemimpin yang efektif bilamana ia mampu menjalankan proses kepemimpinannya yang mendorong, mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan dan tingkah laku kelompoknya. Inisiatif dan kreatifitas kepala madrasah yang mengarah kepada kemajuan madrasah merupakan bagian integrative dari tugas dan tanggung jawab. Fungsi utamanya ialah menciptakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien, Wahyosumidjo, (2001 : 3)

Dalam melaksanakan fungsi tersebut, kepala madrasah memiliki tanggung jawab ganda, yaitu: pertama, melaksanakan administrasi madrasah sehingga dapat tercipta situasi belajar mengajar yang baik. Kedua, melaksanakan suvervisi pendidikan sehingga diperoleh peningkatan kegiatan mengajar guru dalam membimbing murid-murid (Kemendikbud, 2014:34).

Sebastian Wisnu Aji (2019) Kepala madrasah dapat memiliki program-program inovasi, yaitu: 1) Inovasi program kelas unggulan, 2) Inovasi peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, 3) Inovasi peningkatan kualitas sumber daya manusia secara bersama-sama melalui kedisiplinan dan 4) Inovasi penanaman karakter berbasis keagamaan (islam).

Pada program kelas ungulan, kepala madrasah melakukan inovasi di bidang kurikulum dan pembelajaran. Inovasi di bidang kurikulum berupa penambahan jam pelajaran dan penambahan muatan materi pembelajaran Matematika, IPA, Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Tahfid. Sedangkan inovasi di bidang pembelajaran yaitu dengan menerapkan pembelajaran kontekstual yang tercermin pada pembelajaran di luar kelas (Outing Class).

Dalam program peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, kepala dapat memiliki inovasi dengan membangun unit gedung baru di lantai dua. Pada program peningkatan sumber daya manusia (SDM) secara bersama-sama, Inovasi kepala madrasah adalah menegakkan kedisiplinan di lingkungan madrasah, mengikutsertakan guru dalam kegiatan workshop, dan mengadakan pelatihan jurnalistik kepada guru dan siswa. Dalam program penanaman karakter, dapat memiliki inovasi yaitu membuat program-program penanaman karakter dengan berbasis keagamaan. Kegiatan penanaman karakter yang dilaksanakan secara rutin yaitu sholat dhuha, tadarus Al-Qur’an, sholat dhuhur berjamaah, kultum dan tahfid.