Produksi Industri Terbesar di Purbalingga

Daily Banyumas
Wig dan Bulu Mata Palsu merupakan produk industri terbesar di Purbalingga. (Sumber Foto: DPMPTSP Purbalingga)

Sebuah kabupaten di Jawa Tengah memiliki keunggulan dalam bidang industri yaitu Kabupaten Purbalingga, sehingga dijuluki sebagai kota industri yang mendunia. Dilansir dari laman resmi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Purbalingga.

Produk industri terbesar yang berada di Purbalingga adalah kerajinan Rambut berupa Rambut Palsu (Wig) dan Bulu Mata Palsu. Sejarah menjamurnya perusahaan rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga yaitu diawali pada awal tahun 1976. Saat itu seorang investor asal Korea Selatan mendirikan perusahaan rambut Royal Kenny yang kini berubah nama menjadi Royal Korindah. Beberapa tahun kemudian bermunculan pabrik serupa yang juga dimiliki oleh pengusaha Korea, yakni Indokores Sahabat, Yuro Mustika yang keduanya berada di Kelurahan Kandang Gampang, dan Sunchang di Kelurahan Mewek. Pada saat itu investor asal Korea Selatan ini berani untuk menginvestasikan usahanya di daerah Kabupaten Purbalingga karena ia menilai di Kabupaten Purbalingga ini bisa menjadi daerah yang potensial untuk membuat usaha industri ini (Virea dkk, 2014).

Kelebihan produk Rambut ini adalah pembuatannya yang murni menggunakan tangan (handmade). Sehingga hasilnya akan lebih rapi dan tidak sama antara 1 dengan yang lain. Karena kualitasnya yang “ok” produk rambut made in Purbalingga sudah dipakai para artis Hollywood dan diekspor ke berbagai negara.

Pengembangan Industri dan Ekonomi Kreatif

Nuraini & Rifzaldi (2017) menjelaskan bahwa industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Disperindag, 2008). Industri kreatif juga dapat dipahami sebagai industri yang menyediakan layanan kreatif bisnis, seperti periklanan, public relations (kehumasan) dan penjualan. Jadi, inti dari industri kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan dalam bidang seni dan kerajinan.

Keindahan pun menjadi tumpuan yang harus ditonjolkan. Jika industri lain lebih banyak ditopang oleh modal dan tenaga kerja, maka industri kreatif bertumpu pada karya. Hal ini sesuai dengan karakter industri kreatif yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Selain pengembangan industri kreatif, ekonomi kreatif pun harus dikembangkan agar perindustrian dan perekonomian Indonesia semakin maju. Menurut Nurchayati (2016) ekonomi kreatif akan menjadi potensial apabila didukung tiga hal, yaitu Knowledge Creative (Pengetahuan yang kreatif), Skilled Worker (pekerja yang berkemampuan), Labor Intensive (kekuatan tenaga kerja) untuk dapat dipergunakan kepada begitu banyak ruang dalam industri produk kreatif yang terus berkembang di Indonesia.

Dilansir dari Seminar Nasional Riset Manajemen & Bisnis tahun 2017 menjelaskan ada tiga faktor utama dalam pengembangan ekonomi kreatif, yaitu:

  1. Dari sisi pemerintah : arahan edukatif, penghargaan insan kreatif dan konservasi,dan insentif.
  2. Dari sisi bisnis : kewirausahaan, business coaching and mentoring, skema pembiayaan, pemasaran dan business matching, komunitas kreatif.
  3. Dari sisi cendekiawan : kurikulum berorientasi kreatif dan enterpreneurship, kebebasan pers dan akademik, riset inovatif multidisiplin, lembaga pendidikan dan pelatihan.

Banyak sekali manfaat dalam mengembangkan industri dan ekonomi kreatif. Karena Ekonomi kreatif akan menggeser produk-produk hasil industri konvensional dan memberikan solusi baru yang lebih tepat untuk kebutuhan pasar. Sehingga bermunculan ide dan karya baru untuk dikembangkan serta memperluas peluang kerja di masa yang akan datang.