PMR SMPN 1 Karangsambung Perkuat Karakter Mulia

Daily Banyumas
PMR SMPN 1 Karangsambung melakukan bakti sosial di sekitar sekolahnya. (Sumber Foto: PMI Kebumen)

Kebumen – Remaja sekarang yang disebut sebagai generasi milenial lebih senang bermain dengan gawai elektronik dibanding bersosialisasi dengan masyarakat seingga menimbulkan kurangya kepedulian terhadap sekitar. Hal ini ditandai dengan peningkatan penggunaan dan kecanggihan teknologi yang semakin mengarah kepada kehidupan individu dan berfokus kepada materialistis.

Maraknya hal negatif tersebut, 34 asisten pembina PMR Unit SMPN 1 Karangsambung Kebumen coba mengurangi dengan mengadakan kegiatan bakti sosial sekaligus pemberian bingkisan kepada orang jompo, anak yatim piatu dan anak-anak kecil disekitar sekolah. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari senin (16/9) sebagai bagian memperingati Hari Ulang Tahun ke 74 Palang Merah Indonesia, dilansir dari laman resmi PMI Kebumen.

“Orang jompo merupakan warga masyarakat yang sering kesepian dan kurang berperan dalam kehidupan masyarakat, oleh karenanya, dihari ini kami melakukan kunjungan sebagai bentuk rasa kepedulian. Kami juga membagikan bingkisan kepada anak-anak kecil agar mengenal Palang Merah Indonesia juga bagi anak yatim piatu” ucap Anggita Cahyani selaku koordinator kegiatan.

“Bingkisan berupa paket sembako sebanyak 14 dus, bibit tanaman binahong serta daun afrika, dan kado berupa makanan ringan. Bibit tanaman herbal kami bagikan agar masyarakat kembali memanfaatkan tanaman obat untuk kesehatannya, selain itu mendukung sekolah kami menuju sekolah Adiwiyata Nasional” imbuh Anggita.

Orang tua Jompo yang menerima bingkisan rata-rata berusia diatas 75 tahun, dan beberapa ada yang sudah mengalami kekurangan penglihatan serta pendengarannya. Nampak raut bahagia dari wajah-wajah tua nya.

“Terimakasih atas bingkisannya dan kepedulian kepada mbah kami, semoga adik-adik semua menjadi orang yang berguna” ujar Siti, cucu dari mbah Sinah, salah satu yang mendapat bingkisan.

“Kegiatan PMR menekankan kepada penguatan delapan karakter mulia, salah satunya peduli. Kami selalu mendukung upaya penguatan karakter mulia di semua kegiatan sekolah” jelas kepala sekolah, Hj.Siti Makmuroh.

Penguatan Pendidikan Karakter Mulia Melalui Kegiatan PMR

Menurut Desy (2019) pendidikan merupakan faktor utama yang berperan dalam membentuk karakter manusia. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengenbangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandarin, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter sendiri yaitu suatu ciri khas/watak/sifat yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Karakter adalah hal dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Pada masa sekarang, banyak kasus kemerosotan karakter yang terjadi di Indonesia. Salah satunya dalam dunia pendidikan. Banyak peserta didik yang tidak patuh pada perintah guru, banyak juga yang tidak menghargai guru dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya penanaman karakter sejak dini yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (dalam Jurnal Pendidikan Islam).

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan amanat Nawa Cita yang dicanangkan Presiden. Nawa Cita tersebut tertuang pada butir ke delapan yaitu tentang mengadakan revolusi karakter. PPK juga menyangkut kepribadian atau akhlak siswa. Bisa dipahami bagaimana Presiden memiliki perhatian dengan PPK karena generasi sekarang adalah generasi emas yang 30 tahun mendatang akan menjadi pemimpin. Jadi, dengan karakter yang baik, dapat dipastikan kepemimpinan pada generasi mendatang akan luar biasa. Peraturan Presiden No. 87 tahun 2017 tentang PPK merupakan pembuka ruang untuk sinergi antara antara sekolah dan komunitas yang bergerak dalam pengembangan nilai-nilai luhur. Kalangan guru dan sekolah menyambut baik perpres itu, sebagaimana tegas M Ramli Rahim (Siti, 2019).

Pembentukan pendidikan karakter bisa dilakukan melalui lingkungan sekolah. Para guru mengajarkannya baik dalam kegiatan belajar-mengajar maupun ekstrakurikuler. Karakter bukan merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi nilai nilai karakter tersebut diintegrasikan dalam kurikulum, artinya menjadi penguat kurikulum yang sudah ada. Oleh sebab itu, perlu penanaman pendidikan karakter untuk setiap sekolah dengan berbagai kegiatan yang bisa menunjang penanaman karakter yang baik (Siti dalam Hamid 2017). Penguatan pendidikan karakter juga salah satunya melalui kegiatan PMR. Seperti yang dilakukan oleh PMR Unit SMPN 1 Karangsambung Kebumen yang melakukan bakti sosial ke panti jompo. Hal tersebut meningkatkan kesadaran akan kepedulian antar sesama dan juga dapat menjadikan seseorang menjadi pribadi yang mulia. Hal-hal kecil seperti itu bisa kita tanamkan di kehidupan sehari-hari.