Bupati Banyumas Diundang ke Metro TV dalam Talk Show Penanggulangan Sampah

Talk show di Metro TV bersama Bupati Banyumas berbicara masalah penanggulangan sampah, Rabu (18/12). (Foto:Pemkab Banyumas)

Banyumas – Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein diundang ke Metro TV yang ditayangkan Rabu (18/12) untuk menjelaskan solusi pengurangan sampah di Kabupaten Banyumas dengan dua nara sumber lainnya yaitu F. Supadi dari Malang dan Ananto Isworo dari Kampung Brajan.

Achmad menjelaskan dalam talk show di Metro TV bahwa pemerintah Kabupaten Banyumas senantiasa berupaya dan melakukan terobosan dengan cara membangun Pusat Daur Ulang (PDU) yang ditujukan sebagai upaya pengelolaan sampah. Sehingga saat ini volume sampah yang dibuang ke TPA menurun dari 90 truk perhari menjadi hanya 30 truk perhari dan ke depannya pengelolaan sampah direncanakan tidak lagi dikelola di TPA namun diselesaikan dari hulu yang sebenarnya, yaitu pengurangan sampah itu sendiri.

Kabupaten Banyumas memiliki permasalahan yang klasik yaitu pengelolaan sampah dimana bertambahnya penduduk maka akan semakin bertambah pula aktivitas penduduk yang akhirnya menambah jumlah limbah sampah, yang mana sekarang ini jumlah penduduk Kabupaten Banyumas lebih dari 1 juta jiwa.

Pemerintah Kabupaten Banyumas telah meluncurkan sebuah aplikasi dengan nama “APLIKASI SALINMAS” yaitu aplikasi Sampah Online Banyumas dimana aplikasi ini memberikan edukasi tentang pemilahan sampah dan juga dimanfaatkan sebagai media transaksi keekonomian sampah. Aplikasi tersebut dibuat dengan harapan untuk lebih mendorong peran warga dalam pengurangan sampah, serta memberikan pemahaman tentang nilai ekonomi dari sampah.

Diharapkan banyak warga yang sadar untuk mengelola sampah maka akan berperan mengurangi jumlah sampah yang ada khususnya di Kabupaten Banyumas.

Permasalahan Sampah dan Pengolahan-Pengolahannya

Permasalahan sampah meliputi 3 bagian yaitu pada bagian hilir, proses dan hulu. Pada bagian hilir, pembuangan sampah yang terus meningkat. Pada bagian proses, keterbatasaan sumber daya baik dari masyarakat maupun pemerintah. Pada bagian hulu, berupa kurang optimalnya sistem yang diterapkan pada pemrosesan akhir.

Jailan Sahil dkk (2016) dalam Sistem Pengelolaan dan Upaya Penanggulangan Sampah Di Kelurahan Dufa- Dufa Kota Ternate mengataka bahwa sistem pengelolaan persampahan terutama untuk daerah perkotaan, harus dilaksanakan secara tepat dan sistemastis. Kegiatan pengelolaan persampahan akan melibatkan penggunaan dan pemanfaatan berbagai prasarana dan sarana persampahan yang meliputi pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan maupun pembuangan akhir. Masalah sampah berkaitan erat dengan dengan pola hidup serta budaya masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu penanggulangan sampah bukan hanya urusan pemerintah semata akan tetapi penanganannya membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas. Jumlah sampah ini setiap tahun terus meningkat sejalan dan seiring meningkatnya jumlah penduduk dan kualitas kehidupan masyarakat atau manusianya dan disertai juga kemajuan ilmu pengetahuan teknologi yang menghasilkan pula pergeseran pola hidup masyarakat yang cenderung konsumtif.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengolahan sampah yang dianggap sebagai penghambat sistem adalah penyebaran dan kepadatan penduduk, sosial ekonomi dan karakteristik lingkungan fisik, sikap, perilaku serta budaya yang ada di masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia nomor 3 tahun 2013, tempat penampungan sementara (TPS) adalah tempat dimana sebelum sampah diangkut untuk dilakukan pendauran ulang, pengolahan dan tempat pengolahan sampah terpadu. Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) adalah tempat pelaksanaan kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan dan pemrosesan akhir.

Berdasarkan peraturan menteri tersebut maka perlunya pelatihan pengelolaan sampah menjadi barang yang berguna dan bermanfaat dilakukan pada tahun keenam karena sudah ada wadah yang menampung untuk mengolah sampah menjadi barang yang berguna dan bermanfaat.