Kebumen Harus Terbebas dari Sampah Plastik

Bupati KH. Yazid Mahfudz mengajak para pelaku untuk mengurangi sampah plastik. (Sumber: Website Kabupaten Kebumen)

Kebumen – Bertempat di Hotel Candisari, Karanganyar, Bupati KH. Yazid Mahfudz mengajak para pelaku usaha dan masyarakat konsumen agar mengurangi penggunaan kantong plastik untuk barang belanjaannya pada Selasa (17/12). Hal ini agar Kabupaten Kebumen bebas dari sampah plastik pada 2025 mendatang sebagaimana target pemerintah pusat. Hal tersebut diungkapkan usai menghadiri acara Pengundian Kupon Berkah Konsumen, Sosialisasi Pojok Lokal, dan Launching SRC Peduli Sampah Plastik.

Yazid juga menghimbau agar para pengusaha retail atau pedagang kelontong menggunakan kantong belanjaan berbahan kain atau lainnya yang ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi penggunaan kantong plastik demi kebersihan lingkungan.

Total sampah Kebumen setiap harinya mencapai 120 ton yang sebagian juga merupakan sampah plastik. Mulai sejak dini semua masyarakat harus bisa mengurangi penggunaan sampah plastik. Sebab, jika tempat pembuangan akhir sampah setiap harinya dipenuhi sampah plastik maka akan berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat itu sendiri.

“Kita sudah ada bank sampah yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menambah pendapatan keuangan rumah tangga. Pilah sampah-sampah plastik dan kemudian bisa dijual ke bank-bank sampah. Jadi masyarakat tak hanya mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga mendapatkan uang sebagai penghasilan tambahan,” ungkap Pambudi Sekertaris Dinas Perkim LH Kebumen yang mengingatkan kepada masyarakat agar mengoptimalkan bank sampah.

Pambudi juga mengapresiasi kegiatan Sampoerna Retail Community (SRC) yang peduli sampah plastik. “SRC telah mengganti kantong plastik untuk barang belanjaan dengan tas atau kantong belanjain kain untuk konsumen. Kantong belanjaan ini ramah lingkungan dan bisa digunakan berulang-ulang oleh konsumen,” kata Pambudi.

Pengurangan Sampah Plastik dengan Menggunakan Metode Daur Ulang

Sampah plastik menjadi masalah utama dalam kehidupan sehari-hari karena plastik bukanlah material yang sempurna, plastik juga memiliki kelemahan yang cukup fatal dilihat dari sisi lingkungan yaitu hampir separuh jenis plastik yang dihasilkan oleh industri tidak dapat terurai dengan mudahnya di alam. Lalu ada beberapa jenis plastik yang tidak bisa dilebur atau dihancurkan. Sehingga plastik yang tidak dapat dilebur tersebut akan dibuang dan menumpuk menjadi gunungan sampah yang akan terus bertambah seiring bertambahnya pemakaian (Iyus, 2017).

Menurut Jatmiko (dalam Thorat dkk, 2013) salah satu alternatif penanganan masalah sampah plastik adalah dengan melakukan proses daur ulang (recycle). Pirolisis sampah plastik merupakan salah satu bentuk proses daur ulang dengan mengubah plastik menjadi bahan bakar. Selain bermanfaat untuk mengurangi jumlah sampah plastik, pirolisis sampah plastik juga bermanfaat untuk menyediakan bahan bakar dengan nilai energi yang cukup tinggi. Secara umum, kurang lebih 950 ml minyak bakar bisa diperoleh dari pirolisis 1 kg plastik Polyolefin misalnya Polypropylene, Polyethylene dan Polystyrene.

Limbah plastik dapat di daur ulang kembali menjadi barang plastik, tetapi hanya 80% jenis plastik yang dapat diproses dengan melakukan teknik pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitasnya. Tetapi untuk sisanya tetap sulit untuk di daur ulang, walaupun memungkinkan, tetapi membutuhkan biaya yang besar serta proses yang lebih panjang (Iyus dalam Macklin 2009).

Menurut Parmiati (2016) daur ulang merupakan proses pengolahan kembali barang-barang yang dianggap sudah tidak mempunyai nilai ekonomis lagi melalui proses fisik maupun kimiawi atau kedua-duanya sehingga diperoleh produk yang dapat dimanfaatkan atau diperjualbelikan lagi. Daur ulang (recycle) sampah plastik dapat dibedakan menjadi empat cara yaitu daur ulang primer, daur ulang sekunder, daur ulang tersier dan daur ulang quarter. Daur ulang primer adalah daur ulang limbah plastik menjadi produk yang memiliki kualitas yang hampir setara dengan produk aslinya. Daur ulang cara ini dapat dilakukan pada sampah plastik yang bersih, tidak terkontaminasi dengan material lain dan terdiri dari satu jenis plastik saja. Daur ulang sekunder adalah daur ulang yang menghasilkan produk yang sejenis dengan produk aslinya tetapi dengan kualitas di bawahnya. Daur ulang tersier adalah daur ulang sampah plastik menjadi bahan kimia atau menjadi bahan bakar. Daur ulang quarter adalah proses untuk mendapatkan energi yang terkandung di dalam sampah plastik.

Mengingat kandungan energi yang tinggi dari bahan plastik, maka potensi pemanfaatannya sebagai salah satu sumber energi memiliki prospek yang cukup bagus di masa mendatang. Hal ini dapat diperoleh dua keuntungan sekaligus yaitu mengurangi masalah sampah plastik dan juga menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional. Beberapa teknologi bisa digunakan untuk mengkonversi sampah plastik menjadi bahan bakar diantaranya yaitu konversi ke bahan bakar padat, konversi ke bahan bakar cair dan konversi ke bahan bakar gas (dalam jurnal Upaya Mengurangi Timbulan Sampah Plastik di Lingkungan).

Mengkonversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak termasuk daur ulang tersier. Merubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dapat dilakukan dengan proses cracking (perekahan). Cracking adalah proses memecah rantai polimer menjadi senyawa dengan berat molekul yang lebih rendah. Hasil dari proses cracking plastik ini dapat digunakan sebagai bahan kimia atau bahan bakar. Terdapat 3 macam proses cracking yaitu hidro cracking, thermal cracking dan catalytic cracking (Parmiati dalam Panda, 2011).