Kabupaten Purbalingga Mendapatkan Dua Penghargaan Abiwara Pariwisata 2019

Penerima penghargaan Tokoh Penggerak Pariwisata Unsur Swasta berpose bersama pada penyerahan penghargaan Abiwara Pariwisata Jateng 2019 di Alun-alun Kebumen, Sabtu (5/10) malam. (Sumber: Pemkab Purbalingga)

Kebumen – Kabupaten Purbalingga berhasil membawa dua penghargaan Abiwara Pariwisata yang diselenggarakan pada tahun 2019 di Alun-alun Kebumen, Jawa Tengah. Pertama, melalui Direktur Purbasari Pancuran Mas, H. Junjung, SE mendapatkan penghargaan Abiwara Pariwisata Kategori “Tokoh Penggerak Pariwisata Unsur Swasta”. Kedua, melalui Obyek Wisata Goa Lawa Purbalingga (GOLAGA) mendapatkan Penghargaan Abiwara Pariwisata Terbaik ke-2 kategori “Obyek Wisata yang Dikelola Pemerintah”.

“Alhamdullilah Purbalingga dapat dua penghargaan sekaligus. Ini prestasi yang cukup membanggakan. Sebelumnya, Owabong juga meraih penghargaan Abiwara untuk kategori objek wisata yang dikelola pemerintah tahun 2018 lalu,” kata dia, Minggu (6/10).

Dilansir dari laman resmi Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga, penghargaan Abiwara Pariwisata ini merupakan penghargaan di bidang pariwisata yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tujuannya agar pariwisata Jawa Tengah mempunyai daya saing serta memiliki keunggulan di tingkat nasional maupun internasional. Acara ini dikelola oleh Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

Berikut daftar pemenang penghargaan Abiwara Pariwisata 2019:

  1. Kategori Hotel Bintang: The Alana Hotel
  2. Kategori Hotel Non Bintang: Hotel Pondok Asri
  3. Kategori Rumah Makan: Bali Ndeso Karanganyar
  4. Kategori MICE: De Tjolomadoe Karanganyar
  5. Kategori Karaoke: Inul Vista Semarang
  6. Kategori Tokoh Penggerak Pariwisata Unsur Pemerintah: FX. HADI RUDYATMO – Walikota Surakarta
  7. Kategori Kategori Tokoh Penggerak Pariwisata Unsur Swasta: JUNJUNG, SE – purbalingga
  8. Kategori Karya Tulis: Stanley Wijaya Magetan Jatim
  9. Kategori Karya Foto: Giri Wijayanto
  10. Kategori Daya Tarik Wisata Dikelola Pemerintah:

Peringkat I: Museum BPK Kota Magelang

Peringkat II: GOA LAWA PURBALINGGA

Peringkat III: TAMAN KYAI LANGGENG Kota

Peringkat IV: GOA JATIJAJAR KEBUMEN

Peringkat V: Grand Maerokoco Semarang

Peringkat VI: Palawi Resoris Baturraden Banyumas

  1. Kategori Daya Tarik Wisata dikelola Swasta

Peringkat I: Bukit Sekipan Karanganyar

peringkat II: Surya Yudha Park Banjarnegara

peringkat III: Eling Bening Kab. Semarang

Peringkat IV: The Heritage Palace Sukoharjo

Peringkat V: The Village Banyumas

Peringkat VI: Water Blaster Semarang

Kategori Lembaga Pariwisata: LSP GUNA DHARMA Kota Semarang

Strategi Pengembangan Industri Kreatif untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata

Pariwisata merupakan sumber pendapatan yang dapat terus diperbaharui dan diremajakan, bentuk peremajaan daerah wisata ini dapat berupa renovasi, dan perawatan secara teratur, oleh sebab itu maka pariwisata merupakan investasi yang penting pada sektor non migas bagi Indonesia. Pariwisata yang merupakan investasi ekonomi masa depan akan secara otomatis mempermudah perputaran barang dan jasa pelayanan di tempat wisata. Lebih jauh lagi pariwisata akan meningkatkan stabilitas ekonomi nasional, namun tentu saja keberhasilan dalam pengembangan pariwisata seperti di atas akan mampu dirasakan apabila faktor-faktor pendukungnya telah dipersiapkan dengan baik. Contohnya seperti mengembangkan industri kreatif (Rahayu, Dewi dan Fitriana: 2015).

Menurut Nurchayati dalam DCMS (Creative Digital Industries National Mapping Project ARC Centre of Excellent for Creative Industries and Innovation), industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Salah satu alasan dari pengembangan potensi industri kreatif adalah adanya dampak positif yang akan berpengaruh pada kehidupan sosial, iklim bisnis, peningkatan ekonomi, dan juga berdampak pada citra suatu kawasan tersebut. Hal pendorong tersebut disebabkan karena sesuatu yang baru, baik menyangkut produk barang ataupun jasa, selalu mendorong orang untuk mendatangi, melihat, mengetahui, merasakan, atau bahkan ingin memilik bila sesuatu itu bisa diperdagangkan. Demikian juga dengan industri kreatif, baik sesuatu yang baru sama sekali, inovasi terhadap sesuatu yang sudah ada ataupun mencontoh di tempat lain, akan mendorong orang untuk mengetahui keberadaan sesuatu yang baru tersebut. Dengan demikian, keberadaan industri kreatif secara langsung ataupun tidak langsung merupakan obyek dan daya tarik wisata (destinasi wisata) yang dapat mendorong orang untuk datang atau mengunjungi keberadaan industri kreatif tersebut (Nurchayati: 2016).

Sinergi antara ekonomi kreatif dengan sektor wisata merupakan sebuah model pengembangan ekonomi yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Untuk mewujudkan pengembangan industri kreatif, diperlukan adanya strategi yang baik dan sesuai. Di antaranya menciptakan usaha kreatif dengan membuat outlet-outlet yang unik dan mengemas produk semenarik mungkin. Dalam membentuk pengetahuan yang kreatif, diperlukan adanya peran pemerintah daerah, dalam peningkatan aspek ketrampilan Sumber Daya Manusia dari pengrajin melalui pelatihan dan pembentukan karakter, pembenahan manajemen baik manajemen pemasaran (kualitas produk, promosi maupun manajemen keuangan, akses teknologi dan permodalan).