Kebumen Menjadi Tuan Rumah Hari Cinta Puspa Satwa Nasional 2019

Pemerintah Kabupaten Kebumen menjadi tuan rumah dari peringatan HCPSN Tahun 2019, jumat (6/12), (Foto; Pemkab Kebumen)

Kebumen – Pemerintah Kabupaten Kebumen menjadi tuan rumah dari peringatan HCPSN Tahun 2019 tingkat Provinsi Jawa Tengah Memperingati Hari Cinta Puspa Satwa Nasional Tahun 2019.

Kegiatan yang dipusatkan di Pantai Petanahan Kebumen ini disambut hangat masyarakat, apalagi acara digelar selama 2 (dua) hari, mulai Jumat (29/11) dan Sabtu (30/11) di Komplek Obyek Wisata Pantai Petanahan, diikuti sedikitnya 1500 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut hadir Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz, sejumlah kepala OPD, Direktur CSR Pertamina, serta pejabat dari institusi terkait lainnya.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap arti penting puspa dan satwa dalam kehidupan manusia yang harus dijaga kelestariannya. Karena itu seluruh lapisan masyarakat Kebumen agar terus semangat dan pantang lelah dalam menjaga kelestarian puspa dan satwa Indonesia,” ujar Edi Riyanto ST MT selaku Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kebumen.

Melalui serangkaian kegiatan ini pula diharapkan dapat memberikan banyak manfaat serta meningkatkan pengetahuan dan kecintaan anak terhadap puspa dan satwa.

Edi Riyanto juga mengatakan bahwa satwa yang kini mulai punah, yakni burung walet. Kelestarian habitat burung walet sarang putih (Collocalia spp) di gua-gua karst, khususnya di Kab. Kebumen merupakan salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian. Pemanenan sarang burung walet secara berlebihan pada saat anak-anak walet masih kecil dan belum bisa terbang mengakibatkan kematian walet dan terganggunya proses regenerasi. Akibatnya, hasil unduhan sarang walet di habitat alaminya menurun dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2000, sarang burung walet yang diunduh sebanyak 163,25 Kg, namun terus menurun menjadi 121,60 Kg pada tahun 2003 dan terakhir hanya 42,96 Kg pada tahun 2011.

Edi Riyanto juga memaparkan, selain faktor eksploitasi berlebihan, penurunan jumlah sarang burung walet diduga dipengaruhi oleh perubahan habitat dan ketersediaaan pakan alami burung walet yang terus berkurang. Penebangan pohon juga mengakibatkan perubahan suhu udara di sekitar mulut gua, sementara burung walet hanya akan hidup jika habitatnya bersuhu dingin dan lembab.

“Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pasal 57 ayat (1) mengamanatkan pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup yang dilaksanakan baik melalui upaya konservasi maupun pencadangan sumber daya alam. Upaya konservasi ditekankan pada konservasi sumber daya air, ekosistem hutan, ekosistem pesisir dan laut, lahan gambut dan karst; sedangkan pencadangan sumberdaya alam, salah satunya sumber daya genetik lokal,” jelas Edi Riyanto.

Melalui peringatan HCPSN Tahun 2019 diharapkan dapat menjadi momentum untuk melakukan upaya atau aksi perlindungan keanekaragaman hayati khususnya walet Kebumen dari ancaman kepunahan di habitat alaminya. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang mempopulerkan dan mengembangkan pemanfaatan sumberdaya genetic asli Jawa Tengah, khususnya Kelapa Genjah Entok, dan Sapi PO Kebumen. Selain diisi dengan kegiatan bersih-bersih pantai dari beragam sampah plastik, peringatan HSCPN tahun 2019 ini juga disiisi dengan kegiatan penaman pohon, aneka lomba lingkungan hidup, penglepasan satwa serta bazar produk kreatif.

Pentingnya Perlindungan Satwa untuk Mengurangi Kepunahan Masal

Pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian yang sangat penting dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila.Unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem.

Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam khususnya satwa langka menjadi mata pencaharian utama dibeberapa kalangan masyarakat. Tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat pemanfaatan satwa liar dilakukan hampir setiap hari dengan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem. (Dalam jurnal GEMA; Arief Budiman peneliti dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta; Pelaksanaan Perlindungan Satwa Langka Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Studi di Seksi Konservasi Wilayah I Surakarta Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah)

Untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya, maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri.

Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia menetapkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sebagai pengaturan yang menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Perlu melakukan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat dengan melibatkan banyak pihak untuk membantu, agar konsep konservasi yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, juga perlu melakukan penambahan jumlah pegawai structural maupun fungsional dan tenaga ahli agar semua program kerja dapat terlaksana dengan maksimal dan tidak ada kekosongan posisi kerja, serta aparat penegak hukum mempunyai aturan kerjasama yang jelas dengan BKSDA dalam hal pengawasan dan penindakan, serta masyarakat harus sadar hukum dan pentingnya konservasi satwa langka. (Dalam jurnal GEMA; Arief Budiman peneliti dari Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta; Pelaksanaan Perlindungan Satwa Langka Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Studi di Seksi Konservasi Wilayah I Surakarta Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah)