Kegiatan Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal/Neonatal Upayakan Peningkatan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

Kegiatan desiminasi hasil kajian Audit Maternal/Neonatal yang digelar Selasa-Rabu (19-20/11) di Hotel Surya Yudha Purwokerto yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, (Foto;Pemkab Banyumas)

Purwokerto – Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas mengadakan kegiatan desiminasi hasil kajian Audit Maternal/Neonatal yang digelar Selasa-Rabu (19-20/11) di Hotel Surya Yudha Purwokerto. Kegiatan tersebut diikuti oleh pengelola program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), perwakilan Rumah Sakit, organisasi wanita dan Tim AMP Kabupaten Banyumas. Kegiatan diikuti oleh pengelola program KIA, perwakilan Rumah Sakit, organisasi wanita dan Tim AMP Kabupaten Banyumas.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka pengupayaan untuk peningkatan mutu pelayanan KIA di Puskesmas atau Rumah Sakit sehingga dapat mencapai zero Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Baru lahir (AKB).

‘Hasil Audit Maternal Perinatal tingkat Kabupaten Banyumas merupakan serangkaian kegiatan hasil penelusuran sebab kematian dan kesakitan ibu, perinatal dan neo natal guna diketahuinya cara mencegah kesakitan atau kematian serupa di masa yang akan datang. Dan penyampaian hasil rekomendasi serta rencana tindak lanjut yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Kematian ibu pada tahun 2018 terdapat 18 kasus (67,64/100.000 KH) menjadi 9 kasus per Oktober 2019 (43/100.000 KH),” ujar Sadiyanto selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.

“Dari 9 kasus yang masuk regoster kematian di Kabupaten Banyumas, sebenarnya bisa dicegah dengan score 2 ada 4 kasus dan score 3 ada 5 kasus,” tambahhnya.

Sebagian besar kematian tersebut dapat dicegah melalui pelayanan antenatal yang mampu mendeteksi dan menagani kasus resiko tinggi secara memadai dengan pertolongan persalinan yang bersih dan aman serta pelayanan rujukan kebidanan / perinatal yang terjangkau pada sat diperlukan. hal tersebut bisa dilakukan dengan mengembangkan konsep Audit Maternal Perinatal.

Selanjutnya hasil audit tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan hal – hal yang mempengaruhi kematian ibu dan bayi yakni faktor medis, non medis serta faktor pelayanan kesehatan yang berpengaruh.

“Terima kasih atas kerja keras semua pihak sehingga AKI di Banyumas dapat terus di tekan. Menurutnya semua pihak bukan lagi sekedar bekerja dalam koridor SOP, tetapi harus terus berupaya mencapai zero Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Baru lahir (AKB), kita bukan mengingkari kodrat Allah, karena kematian adalah kepastian namun sangt mulyanya kita, apabila dapat menyelamatkan Ibu yang mempunyai resiko tinggi,” ujar Achmad Husein selaku Bupati Banyumas.

Bupati Banyumas juga mengatakan bahwa bila pada 2014 tercatat angka kematian ibu melahirkan (AKI) sebanyak 33 orang, 2015 bisa ditekan sebanyak 29 orang, tahun 2016 menjadi 22 orang, tahun 2017 ada 13 kasus dan tahun 2018 naik menjadi 18 kasus karena tidak ada yang memantau karena saya ikut Pilkada. Sekarang 2019 ada 9 kasus, artinya kita semua telah menyelamatkan banyak kematian, untuk itu semua pihak harus lebih peduli kepada Ibu Hamil. Kalo dijawa tengah Pak Gubernur mempunyai Sloga “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng” saatnya kita “menteleng” lebih cermat lagi agar kedepan AKI di Banyumas bisa selalu dibawah 10.

Melalui kegiatan ini diharapkan lintas sektor, lintas program juga pengelola program kesehatan ibu da anak dan pemberi pelayanan kesehatan di tingkat pelayanan dasar dan pelayanan rujukan primer serta masyarakat dapat menetapkan prioritas untuk mengatasi faktor – faktor yang mempengaruhi kematian ibu maternal dan perinatal.

ICE (Intensive Community Empowerment) sebagai Solusi Upaya Mencegah Kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI)

Millenium Development Goals (MDGs) mempunyai target dalam Kesehatan ibu. Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian ibu di indonesia tertinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurunkan angka kematian ibu dengan cara yang kreatif perlu dilakukan agar kematian pada ibu menurun.

ICE (Intensive Community Empowerment) atau pemberdayaan masyarakat yang intensif merupakan suatu upaya untuk membentuk masyarakat menjadi lebih berdaya dan mandiri dalam memelihara kesehatannya. Dengan kata lain, Intensive Community Empowerment merupakan program yang berbasis masyarakat dengan langkah-langkah strategisnya yaitu: mapping strategy, penyuluhan intensif dan pemberdayaan dukun bersalin.

Rendahnya taraf pendidikan dan perekonomian pada masyarakat dapat berdampak pada kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan kurangnya pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat sehingga sangat beresiko terhadap kejadian-kejadian yang tidak dinginkan terkait masalah kesehatan, terutama kesehatan penunjang untuk mencegah munculnya faktorfaktor resiko yang menyebabkan seorang ibu mengalami kehamilan yang beresiko. (Dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa; Rogo Sukmo, Rozzaq Alhanif Islamudin, Imam Subha Ari Pamungkas peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro; ICE (Intensive Community Empowerment) sebagai Solusi Upaya Mencegah Kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI) Sebagai Program Percontohan di Wilayah Kelurahan Bangetayu Wetan Kecematan Genuk Kota Semarang)

Kehamilan beresiko dapat berdampak pada kematian ibu. Angka Kematian Ibu yang tinggi di Indonesia disebabkan karena banyaknya ibu hamil yang memiliki resiko tinggi. Kehamilan risiko adalah kehamilan patologi yang dapat mempengaruhi keadaan ibu dan janin. Dengan demikian, untuk menghadapi kehamilan risiko harus diambil sikap proaktif, berencana dengan upaya promotif dan preventif sampai dengan waktunya harus diambil sikap tegas dan cepat untuk dapat menyelamatkan ibu dan bayinya.

Langkah-langkah dalam melakukan program ICCE adalah sebagai berikut guna mengatasi kenaikan angka kematian ibu adalah sebgai berikut;

  1. Mapping strategi, yang dimaksud dengan mapping strategi disini adalah suatu strategi pemetaan dengan melakukan pendataan secara akurat yang bertujuan untuk memperoleh data mengenai ibu hamil dan pasangan usia subur di suatu wilayah. Dengan melakukan mapping strategy tersebut maka dapat diperoleh suatu peta sasaran yang dapat membantu memberikan informasi mengenai jumlah ibu dan pasangan usia subur yang ada dalam suatu wilayah. Dari hasil mapping strategy, akan diperoleh data jumlah ibu hamil dan pasangan usia subur.
  2. Penyuluhan Intensif, langkah selanjutnya adalah mengadakan kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan yang intensif ini dilakukan dengan berpedoman pada peta sasaran yang telah dibuat pada tahap mapping strategi. Kegiatan penyuluhan bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat terutama dalam hal ini sasarannya adalah ibu dan pasangan usia subur sehingga pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi, upaya pemeliharaan kesehatan saat hamil dan tindakan yang harus dilakukan pada saat hamil dan melahirkan akan meningkat.
  3. Pemberdayaan dukun bersalin, aplikasi dari pemberdayaan tersebut adalah menempatkan dukun bayi yang sebelumnya sebagai penolong persalinan kini beralih fungsi sebagai mitra dengan bidan dalam melakukan asuhan dan pendampingan selama ibu hamil, bersalin sampai masa nifas dengan pendekatan kekeluargaan dan kasih sayang.Pemberdayaan dukun bayi tersebut juga bermaksud untuk mengubah pandangan sebagian kecil masyarakat yang masih percaya kepada dukun bayi, sehingga ibu hamil yang ingin melahirkan dapat beralih ke bidan dengan daya tarik dukun bayi sebagai pendampingan dalam proses persalinan. Dalam pelaksanaan pemberdayaan tersebut, dukun bayi membutuhkan bantuan teknis dari tenaga profesional berupa pengetahuan, pelatihan, keterampilan mengenai proses persalinan.

(Dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa; Rogo Sukmo, Rozzaq Alhanif Islamudin, Imam Subha Ari Pamungkas peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro; ICE (Intensive Community Empowerment) sebagai Solusi Upaya Mencegah Kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI) Sebagai Program Percontohan di Wilayah Kelurahan Bangetayu Wetan Kecematan Genuk Kota Semarang)

Add Comment