KORPRI Banyumas Gelar Lomba Tradisional Upayakan Pelestarian Budaya Olahraga Lokal

Pengurus KORPRI Kabupaten Banyumas menggelar lomba olahraga tradisional di Alun alun Purwokerto, Jumat (22/11), (Foto; Pemkab Banyumas)

Purwokerto- Pengurus KORPRI Kabupaten Banyumas menggelar lomba olahraga tradisional Jumat (22/11/2019) pagi di Alun alun Purwokerto kegitan tersebut diadakan dalam rangka memperingati hari jadi KORPRI. Sebelum mengikuti lomba para peserta melakukan senam kebugaran yang diikuti jajaran Forkopimda Banyumas dan ribuan anggota Korpri.

“Olahraga tradisional dipilih sebagai upaya pelestarian dan menggali kembali budaya lokal. Hal ini sesuai dengan tema yang diusung yaitu Korpri berkarya, melayani dan menyatukan bangsa. Sebab olahraga tradisional memiliki nilai-nilai persatuan dan kebersamaan di antara para peserta,” ujar selaku Wahyu Budi Saptono Ketua Pengurus KORPRI Kabupaten Banyumas,

Sekretaris Korpri Deskart Sotyo Djatmiko mengatakan bahwa kegiatan lomba ini diikuti Korpri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Tingkat Kecamatan. Permainan atau olahraga tradisional yang dilombakan adalah egrang dan bakiak atau terompah panjang. Kegiatan ini menggandeng Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas. Lomba pun berlangsung meriah karena juga diikuti oleh Bupati Banyumas Achmad Husein selaku Dewan Pembina KORPRI dan ketua tim penggerak PKK Banyumas Ny Erna Husein..

“Saya berharap dengan digelarnya lomba olahraga tradisional ini, para Aparatur Sipil Negera (ASN) yang masih berusia muda bisa mengenal kembali dan melestarikan permainan tradisional,” ujar Bupati Banyumas Achmad Husein.

Husein menganggap saat ini banyak generasi muda yang sudah tidak lagi mengenal olahraga serta permainan tradisional tersebut. Beliau juga berharap bahwa anggota Korpri ikut membantu mengenalkan kembali permainan tradisional tersebut.

Melestarikan Kebudayaan Daerah Ditengah Arus Globalisasi

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki budaya lokal terkaya di dunia. Menurut Badan Pusat statistik (BPS), hasil sensus penduduk terakhir tahun 2010, diketahui bahwa Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa dengan budaya yang berbeda-beda.

Kemudian di kehidupan modern saat ini, kebudayaan asli bangsa Indonesia secara perlahan mengalami pergeseran nilai-nilai oleh masuknya arus globalisasi yang membuka peluang negara tanpa batas.

Maraknya perkembangan teknologi dan informasi membuat para generasi muda lupa akan nilai-nilai budaya dan macam-macam budya yang ada, bahkan mereka merasa asing ketia datang dalam sebuah pertunjukan budaya daerah, yang mana budaya tersebut seharusnya merekalah yang melestarikannya.

Sementara disisi lain, kemandirian sebuah bangsa tidak dapat terlepas dari kemampuannya mempertahankan nilai-nilai luhur dan budaya bangsanya. Oleh sebab itu maka eksistensi nilai kearifan budaya lokal nusantara sebagai bagian terintegrasi dari kebudayaan nasional sangat diperlukan. .(Dalam jurnal PEKAN; Suparno, Geri Alfikar, Dominika Santi, Veronika Yosi peneliti dari STKIP Persada Khatulistiwa Sintang; Mempertahankan Eksistensi Budaya Lokal Nusantara Ditengah Arus Globalisasi melalui Pelestarian Tradisi Gawai Dayak Sintang)

Untuk itu tugas kita sebagai generasi muda diharapkan bisa melestarikan kebudayaan lokal suku bangsa yang terdapat di daerah-daerah agar tidak luntur. Selain itu kita harus memperhatikan masalah lain yang akan dihadapi oleh budaya lokal seperti saat ini, dimana kita dapat melihat betapa masih lemahnya peran generasi muda dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal yang terdapat di tiap-tiap daerah di Indonesia.

Upaya-upaya untuk melestarikan kesenian atau kebudayaan tradisional dapat dilakukan dengan upaya memperkenalkan budaya lokal nusantara melalui kegiatan-kegiatan pembinaan baik melewati lembaga pemerintah, swasta, maupun masyarakat kepada generasi muda, kemudian mengalokasikan anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada upaya mempertahankan eksistensi kebudayaan lokal nusantara, selanjutnya membangun kesadaran diri bahwa terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang harus tetap dipertahankan dengan mengkaji secara ilmiah kebudayaan tersebut, terakhir menempatkan kemajuan teknologi dalam era globalisasi sebagai akses untuk memperkenalkan kebudayaan daerah dan memperkuat kebudayaan nasional.(Dalam jurnal PEKAN; Suparno, Geri Alfikar, Dominika Santi, Veronika Yosi peneliti dari STKIP Persada Khatulistiwa Sintang; Mempertahankan Eksistensi Budaya Lokal Nusantara Ditengah Arus Globalisasi melalui Pelestarian Tradisi Gawai Dayak Sintang)

Add Comment