KIR Ganesha SMA Negeri 1 Purbalingga Juara1 Lomba LKTI Tingkat Nasioanal di UGM

TIM KIR Ganesha SMA Negeri 1 Purbalingga, didampingi dua pembinanya, Ruswanto, S.Pd (kanan) dan Meiseti Awan, S.Pd (kiri)  menunjukkan alat ciptaannya yang menghantarkannya sebagai juara 1 LKTI tingkat Nasional. Lomba itu diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

Purbalingga – Tim Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Ganesha SMA Negeri 1 Purbalingga menajdi juara pertama pada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional  “Insectday 2019” tingkat SMA/MA/SMK se Indonesia yang diselenggarakan oleh  Ikatan Mahasiswa Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Tim KIR Ganesha mengungguli karya peserta lainnya, lewat alat yang diciptakannya   yakni “Alat Perangkap Hama Berbasis Mikrokontroler Menggunakan Arduino Mega 2560 pada Media Hidroponik”.

“ini prestasi yang amat membanggakan, karena Tim KIR Ganesha mampu mengungguli tim dari berbagai SMA/MA/SMK  se -Indonesia pada babak final,”  ujar Drs. Kustomo selaku Kepala SMA Negeri 1 Purbalingga, Sabtu (23/11/2019) di Fakultas Pertanian UGM, dan pengumuman hasil final pada Minggu (24/11/2019).

Kustomo juga mengungkapkan bahwa ada 10  tim yang masuk babak final, dan setiap tim diminta mempresentasikan karyanya. Tim KIR Ganesha mampu mengungguli tim lainnya dari Yogyakarta, Jakarta, Tangerang Selatan, Kediri, Nganjuk, Kudus dan sebagainya,” ujar Kustomo, Senin (25/11/2019) di SMAN 1 Purbalingga.

Kustomo yang didampingi  pembina KIR Ganesha, Ruswanto, S. Pd dan Meiseti Awan, S. Pd mengemukakan, Tim KIR Ganesha terdiri tiga orang. Yakni Gilang Rizky (klas XI MIPA 6), Alif Syukron (XI MIPA 6) dan Dewanta Aufar (XI MIPA 8).

Atas prestasinya itu, TIM KIR Ganesha mendapatkan piagam, piala dan sejumlah uang pembinaan.

Pentingnya Inovasi Teknologi dalam bidang Pertanian

Inovasi dalam agribisnis merupakan suatu keharusan agar produk yang dihasilkan selalu mendapat tempat di mata konsumen dan memberikan nilai tambah yang optimal bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya.

Potensi yang besar dari agribisnis seharusnya menjadi kekuatan yang bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di masyarakat. Namun pada kenyataannya tidak demikian, lima komoditas utama yang diandalkan oleh pemerintah (beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi) untuk diadakan oleh dan untuk negeri sendiri masih belum dapat terwujud sepenuhnya.

Hubungan antara sumber daya, kebudayaan (kebiasaan), teknologi dan kelembagaan adalah unsur-unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya untuk menerapkan suatu inovasi. Kebudayaan dan kelembagaan merupakan unsur sosial, sementara teknologi adalah unsur teknis yang tidak dapat dilepaskan dari unsur ekonomi. Ketiga unsur tersebut (sosial-teknologi-ekonomi) saling berinteraksi dalam kerangka sistem inovasi, ketiga unsur terbut akan saling mempengaruhi satu sama lain.

Fase konsepsi-adopsi inovasi memiliki peranan yang penting dalam mengurai stagnasi inovasi agribisnis. Suatu invensi akan menjadi inovasi apabila memberikan manfaat bagi para petani, proses konsepsi-adopsi adalah tahapan-tahapan yang berperan penting dalam proses internaslisasi invensi teknologi agar dapat memberikan manfaat.

Pada fase konsepsi, penciptaan ide baru yang tidak terkait dengan realitas pertanian atau kebutuhan petani menciptakan stagnasi konsepsi yang berujung pada penghamburan biaya riset. Selanjutnya pada fase adopsi, kesenjangan pengetahuan petani dan penyusutan teknologi hasil invensi mengakibatkan teknologi yang diadopsikan memberikan manfaat hanya dalam jangka pendek, atau bahkan tidak memberikan manfaat sama sekali karena tidakdapat digunakan. Keterbatasan akses pengatahuan dan ekonomi mengakibatkan kegagalan adopsi teknologi banyak terjadi pada petani kecil. (Dalam junral Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran; Mahra Arari Heryanto, Yayat Sukayat, Dika Supyandi; Sistem Inovasi Berkelanjutan dalam Agribisnis: Mengurai Stagnasi Inovasi Agribisnis)

Upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk mengurai stagnasi tersebut di antaranya adalah dengan sinkronasasi antara lembaga riset dengan kebutuhan para petani terkait dengan peningkatan produksi dan kualitas produk pertanian dan menjadikan petani sebagai pemilik riset melalui investasi terhadap riset yag dilakukan. Kemudian pada fase adopsi diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi kesenjangan pengetahuan dan keterampilan petani dengan memperbanyak interaksi antara lembaga sumber invensi dengan lembaga penyuluhan atau pendamping petani.

Selain itu pula diperlukan rekayasa kelembagaan petani untuk mengatasi resiko penyusutan teknologi guna menjaga keberlangsungan teknologi sehingga dapat terus memberikan manfaat kepada penggunanya. (Dalam junral Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran; Mahra Arari Heryanto, Yayat Sukayat, Dika Supyandi; Sistem Inovasi Berkelanjutan dalam Agribisnis: Mengurai Stagnasi Inovasi Agribisnis)

 

Add Comment