Pentingnya Pemahaman Mengenai Penyakit HIV/AIDS di Kalangan Remaja

Rapat Koordinasi Bidang Kesehatan dan Rakor Anggota Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Kebumen yang berlangsung di Ruang Jatijajar, Selasa(19/11), (Foto; Pemkab Kebumen)

Kebumen – Rapat Koordinasi Bidang Kesehatan dan Rakor Anggota Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Kebumen yang berlangsung di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Selasa (19/11). Dalam acara tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Kebumen H.Arif Sugiyanto, SH dengan narasumber Kepala Dinas Kesehatan dan Kabid P3A Dispermades.

“Saya Harap pemerintah bisa melakukan pendampingan maksimal pada para penderita. Kemudian pemerintah juga perlu menemukan cara untuk bisa membuat masyarakat memahami bagaimana upaya untuk menghindari HIV./AIDS,” ujar H.Arif Sugiyanto selaku Wakil Bupati Kebumen.

Situasi penyebaran HIV/AIDS di Indonesia seperti dilaporkan oleh Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang mendekati angka setengah juta atau 500.000 yaitu 466.859 yang terdiri atas 349.882 HIV dan 116.977 AIDS. Sedangkan estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 640.443. Dengan demikian yang baru terdeteksi sebesar 60,70 persen. Itu artinya ada 290.561 warga yang mengidap HIV/AIDS tapi tidak terdeteksi. Dari aspek epidemiologi HIV/AIDS mereka ini jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Diungkapkan, analisa situasi HIV/AIDS di Kabupaten Kebumen dilaporkan, dari tahun 2003 sampai dengan Oktober 2019 jumlah HIV/AIDS di Kebumen mencapao 1.308 kasus. Dengan rincian HIV : 495 dan AIDS : 799. Dari jumlah itu 432 orang meninggal. Sementara itu di Jawa Tengah dari tahun 1993 sampai dengan 2018 angkanya mencapai 25.808 dengan rincian HIV : 14.346 dan AIDS 11.462. Dari jumlah ini 1.773 dinyatakan meninggal dunia.

Meningkatkan Pemahaman Mengenai HIV/AIDS Dorong Penurunan Penyebaran HIV/AIDS

Perilaku seks berisiko dan penggunaan narkoba suntik merupakan faktor risiko utama terjadinya penularan HIV/AIDS. Berbagai dampak dapat muncul akibat HIV/AIDS antara lain infeksi oportunistik seperti toksoplasmosis tidak harus dalam otak, kandidiasis pada saluran tenggorokan, saluran paru-paru, sarkoma kaposi dan berbagai macam kanker. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) juga sangat potensial mengalami stigma dan diskriminasi di sekolah, tempat kerja, fasilitas layanan kesehatan maupun lingkungan masyarakat. Biaya pengobatan HIV/AIDS juga membebani ekonomi rumah tangga dan negara. (Dalam Buletin Penelitian Kesehatan; Achmad Chairul Hamdi, Merry Wijaya dan Shelly Iskandar; Pencegahan Penularan HIV/AIDS: Efektivitas Metode KIE “Aku Bangga Aku Tahu (ABAT))

Laju peningkatan HIV/AIDS di Indonesia merupakan salah satu yang tercepat di Asia. Sebagai upaya pengendalian HIV/AIDS, pemerintah meluncurkan modul komunikasi informasi dan edukasi Aku Bangga Aku Tahu (KIE ABAT).

Permasalahan HIV/AIDS mendorong pemerintah untuk melakukan upaya pengendalian. Salah satunya melalui kampanye ABAT HIV/AIDS. Kampanye ABAT bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, persepsi, menurunkan stigma dan meningkatkan perilaku pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan dalam hal ini adalah pemahaman tentang pengertian, penyebab, cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

Hal tersebut dilakukan untuk memunculkan rasa kesadaran dan pemahaman mengenai bagaimana bahaya HIV/AIDS bagi manusia yang tujuan akhirnya adalah menurunkan angka penyebaran HIV/ AIDS itu sendiri.