Minimalisir Pemasungan, Dinkes Kab. Banyumas Adakan Pertemuan TPKJM

Salah satu pengisi pertemuan TPKJM sedang memberi materi. Sumber: Pemkab Banyumas.

Sokanegara – Bertepatan dengan peingatan Hari Kesehatan Jiwa Internasional Ke-27, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menggelar pertemuan dengan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), Kamis (10/10/2019). Tema pertemuan ini adalah “Peningkatan Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri”.

Dalam pertemuan ini disandingkan dua narasumber yakni Jasun sebagai Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kab. Banyumas dan dr. Taufik Hidayanto, Sp. Kj..

“Kasus pemasungan yang terdeteksi di Banyumas ada 36 kasus dengan 21 kasus masih dalam pasungan dan 15 orang sudah dibebaskan. Untuk kasus bunuh diri ada 1-2 kasus perbulan, sedangkan untuk gelandangan tidak bisa terdeteksi” kata Jasun.

Menurutnya, ketidak terdeteksinya mereka dikarenakan dari pihak keluarga banyak yang sudah mencoret si penderita dari Kartu Keluarga lantaran frustasi menangani gangguan jiwa anggota keluarganya.

8 Rumah Sakit yang ada di Banyumas pun masih belum ada yang menangani rehabilitasi psikotik.

Dilansir dari web resmi Pemkab Banyumas, Jasun menerangkan bahwa orang yang sakit jiwa bisa dicegah sejak awal dengan adanya desa siaga jiwa. Pembentukan ini bertujuan untuk mendeteksi anggota masyarakat yang berpotensi sakit jiwa.

dr. Taufik sendiri menyampaikan perihal ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

“Ada 2 ciri orang yang mengalami gangguan kejiwaan yaitu yang pertama, mengeluh sendiri atas keadaan dirinya, dan yang kedua, dikeluhkan oleh lingkungannya”, ujarnya.

Kegiatan ini juga menyediakan alat pengukur kondisi fisik dan stres analize, yakni Body Composition Analizer.

Orang Sakit Jiwa Dimata Para Ahli

Kata Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia, Prof Akmal Taher berdasarkan data Riskesdas 2013, angka rata-rata gangguan jiwa berat seperti skizofrenia di Indonesia sebesar 0,17 persen atau sekitar 400.000 orang.

Menurutnya, penanganan yang tidak sesuai justru akan menimbulkan masalah yang lainnya seperti pemasungan maupun bunuh diri.

Sementara Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Jiwa Universitas Padjadjaran, Prof. Suryani, S. Kp., MHSc., Ph. D., menuturkan bahwa gangguan jiwa merupakan salah satu penyakit yang sedang trend.

“Trend pelayanan global untuk mengatasi gangguan jiwa sudah bergerak ke arah pemberdayaan individu yang mengalami gangguan jiwa melalui sebuah proses recovery dengan dukungan dari lingkungan, masyarakat, pemerintah, dan tenaga kesehatan. Dibutuhkan pelayanan yang memadai di masyarakat untuk mendukung proses recovery orang yang mengalami gangguan jiwa. Sudah saatnya ada community mental health center dengan fasilitas dan tenaga professional dibidang kesehatan jiwa,” imbuhnya.

Menurutnya, yang terpenting dari proses recovery tersebut ialah menemukan dan menghadapi tantangan karena keterbatasan penyakit tersebut kemudian membangun nilai diri yang lebih berarti supaya penderita mampu melanjutkan hidup.

“Mereka membutuhkan supportive environment dari keluarga, tetangga, masyarakat, pemerintah, dan swasta,” kata Prof. Suryani.