Jufri Anwar, Kawal Sungai Bersih Sampah dari Wonosobo hingga Cilacap

AKTIVIS SUNGAI – Jufri Anwar, sosok pegiat sungai untuk keseimbangan alam. (Foto: Hendra Wiguna)

Wonosobo, BANYUMASDAILY.COM ** Hingga saat ini, persoalan sampah masih menjadi momok setiap daerah. Akan tetapi, perlu disyukuri, karena kini, kegiatan kepedulian terhadap sampah pun semakin menjamur. Misalnya, yang dilakukan oleh Jufri Anwar (30 tahun). Ia mendedikasikan hidupnya untuk menjaga aliran sungai yang bersih dari sampah, dari Wonosobo hingga Cilacap.

Keseharian Jufri sebagai penjual berbagai macam bibit cabe tidak menghalanginya untuk peduli pada persoalan sampah, terutama aliran sungai. Lintasan sungai yang ia jibakui, dimulai dari Sungai Wangan Aji Wonosobo, berlanjut ke Sungai Serayu Banjarnegara, melintas Purbalingga, Banyumas, dan terakhir, bermuara di Samudera Hindia Cilacap.

Bersama kawan-kawannya, Jufri tergabung dalam sebuah komunitas bernama REAKSI atau singkatan dari Remaja Aktif Kongsi. Komunitas tersebut memulai kegiatan bersih sampah sungai di sekitar daerah Wonosobo. Jufri sendiri kini tinggal di Dusun Kongsi RT 02 RW 03, Desa Bumirejo, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo.

“REAKSI berdiri tanggal 28 Oktober 2012. Jadi, saat ini, genap berusia lima tahun. Jumlah anggota REAKSI, 23 orang, sedang yang aktif sekitar 10 orang. Karena kesibukan masing-masing dan ada sebagian yang merantau, jadi dalam berkegiatan, kadang tidak bisa ikut,” ujar Jufri di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Latar belakang berdirinya REAKSI, sambungnya, adalah motivasi untuk menjadi remaja yang berguna bagi masyarakat pada umumnya dan Dusun Kongsi pada khususnya. Di samping itu, kegelisahan Jufri dan teman-temannya terhadap pandangan masyarakat yang kurang enak pada mereka. Karena sebelumnya, mereka hanyalah sekumpulan remaja yang suka nongkrong sambil bermain gitar hingga tengah malam.

“Melalui REAKSI, kami melakukan kegiatan positif, terutama peduli terhadap lingkungan. Dengan melakukan aksi bersih desa, gotong royong, dan penanaman pohon di berbagai wilayah, kami mencoba mengubah pandangan buruk masyarakat kepada kami. Kami hanya ingin memberi sumbangsih dan membuktikan, walau penampilan kami slengekan, tapi kami masih punya sisi positif,” terang Jufri.

Ia beranggapan, sampah memang selalu menjadi masalah, apabila dibiarkan begitu saja. Namun, sampah justru akan menjadi rejeki berlimpah, ketika diolah.

“Seperti kata teman saya bahwa sampah adalah tumpukan emas yang terabaikan. Di samping bisa menjadi penghasilan, pengolahan sampah yang baik juga mendukung lingkungan yang sehat dan nyaman untuk tempat tinggal,” jelasnya bersemangat.

Selama ini, dampak kurangnya kesadaran buang sampah adalah rusaknya sungai. Kebanyakan masyarakat membuang sampah ke sungai dengan anggapan, jika dibuang ke sungai maka sampah akan hilang. Padahal, tidak demikian. Hadirnya sampah di sungai akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari.

“Seperti yang kita ketahui bahwa sungai adalah salah satu sumberdaya air yang sangat dibutuhkan manusia. Sungai sebagai penyangga daratan dan lautan sudah tentu sangat dibutuhkan guna pengairan pertanian, industri, rumah tangga, dan aktivitas lingkungan lainnya. Pelestarian sungai juga sebagai perwujudan pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan bersama,” terang Jufri memandang jauh ke masa depan.

Suka Duka

Walau Jufri kini tidak sendiri dalam melakukan kegiatan, tak ayal suka duka tetap ada. Ia tetap menjalaninya dengan tulus dan ikhlas.

“Suka duka selama kegiatan, saya rasa, apabila kita melakukan kegiatan yang bermanfaat, apalagi buat orang banyak, yang dirasakan hanyalah rasa suka. Dengan catatan, kita melakukannya dengan tulus ikhlas,” tuturnya berkalbu.

Setiap melakukan sebuah gerakan, apalagi bersentuhan langsung dengan masyarakat, pastilah menemui banyak halangan. Halangan awal REAKSI adalah cibiran dari masyarakat yang membuat mental dan semangat mereka kendor.

Selain itu, anggapan remeh dari masyarakat yang menganggap bahwa kegiatan REAKSI tak ada gunanya dan kurang mendukung. Selain masyarakat, cibiran datang dari teman sesama komunitas yang terkadang mematahkan semangat teman-teman yang lain. Di samping kesibukan teman-teman yang juga semakin padat.

Karena kesabaran dan perjuangan keras, Jufri dan kawan-kawannya kini sudah menuai kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

BAHU MEMBAHU – Aksi bersih sampah Sungai Wangan Aji, 28 0ktober 2017. Selain memperingati Sumpah Pemuda sekaligus Syukuran Milad REAKSI ke-5. (Foto: Komunitas REAKSI)

“Dari semua kegiatan yang sudah kami lakukan, sekarang timbul rasa cinta peduli terhadap lingkungan yang lebih. Teman-teman kalau mau buang sampah sembarangan sekarang jadi punya rasa malu. Lingkungan di sekitar kami sekarang juga jadi lebih bersih meski belum semuanya. Pandangan masyarakat terhadap teman-teman REAKSI juga berbanding terbalik dari sebelumnya. Dan itu semua yang menjadikan motivasi kami untuk berkomitmen melakukan aksi peduli lingkungan,” beber Jufri.

Alhasil, kini mereka mulai mendapatkan kepercayaan publik, sekaligus membuka peluang komunitas untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari berbagai pihak.

“Awal mula Komunitas REAKSI berdiri, sumber dananya dari swadaya anggota komunitas sendiri. Namun, kami bersyukur, setelah adanya perhatian dari pemerintah desa, kami dipertemukan dengan CSR Aqua. Kami difasilitasi lahan oleh pemerintah desa yang sekarang sudah dijadikan Kebun Bibit Desa untuk tanaman konservasi,” kisahnya girang.

Seruan Cinta Kebersihan Lingkungan

Jufri berpesan untuk bersama mewujudkan lingkungan yang sehat. Kalau pun tidak terlibat langsung, katanya, paling tidak mendukung gerakan peduli lingkungan dengan tidak mencemari lingkungan.

“Buat generasi muda, harapan ada pada kalian semua. Kami berharap, generasi muda bisa berperan aktif menjaga lingkungan. Di samping semangat muda yang masih membara, pergerakan kalian juga masih luang, meski tentu saja dengan bimbingan dari senior,” harapnya.

Ia mengharap dukungan penuh dari pemerintah terkait. Karena, dengan adanya ketetapan undang-undang dan wewenang pemerintah maka masyarakat akan lebih memperhatikan persoalan lingkungan. Dukungan pemerintah terkait juga akan memperkuat pergerakan komunitas-komunitas lingkungan tetap eksis dan relevan.

Jufri berpesan kepada pihak swasta, terutama para pelaku industri, untuk bekerja sama menjaga lingkungan. Ia berharap pada pelaku industri supaya tidak sembarangan dalam mengolah atau membuang limbah, yang berarti ikut mendukung aksi pegiat lingkungan. Karena, tak jarang, industri sangatlah bergantung pada material alam. Artinya, ada timbal balik pada alam. Manusia makan dari alam, manusia juga harus memberi pada alam.

“Soal harapan tentulah sangat banyak yang ingin kami capai. Untuk komunitas saya sendiri, harapannya agar tetap eksis dan tetap berkomitmen pada lingkungan. Terbentuk suatu lingkungan yang nyaman, sehat, dan indah untuk ditempati. Masyarakat lebih sadar dan peduli akan pentingnya pelestarian lingkungan,” ia berkata dengan nada optimis.

Selain itu, adanya wujud nyata kerja sama antara pemerintah, masyarakat, swasta, dan pegiat lingkungan, guna memberikan pengertian arahan isu lingkungan. Dengan tujuan, membiasakan masyarakat untuk hidup bersih berdampingan dengan lingkungan sekitar, sehingga generasi sekarang bisa mewarisi anak cucu, lingkungan yang sehat, berikut harapan, mereka bisa meneruskannya.

“Sungai merupakan pusat peradaban. Bangsa Indonesia adalah bangsa maritim, dan sungai merupakan bagian dari kemaritiman itu. Sungai sebagai penyangga antara daratan dan lautan. Untuk itu, menjaga sungai adalah menjaga keutuhan kemaritiman negeri ini. Sama halnya menjaga martabat bangsa demi kesejahteraan bersama yang kita impikan,” pungkasnya.