Memaknai Kebumian Kebumen pada Geowisata Karangsambung

Seorang model tampak sedang berpose dengan latar belakang Geowisata Karangsambung. (Foto: HMK Unsoed)
Seorang model tampak sedang berpose dengan latar belakang Geowisata Karangsambung. (Foto: HMK Unsoed WordPress)

KEBUMEN terletak di pesisir selatan Pulau Jawa, salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Sebagian besar penduduknya bermatapencarian di sektor agraria. Besarnya ombak Samudera Hindia menyebabkan sedikit orang yang memilih menjadi nelayan.

Kebumen konon berasal dari kata kebumian karena merupakan tempat tinggalnya Kyai Bumi, yang juga Pangeran Bumidirjo atau Pangeran Mangkubumi. Sejarahnya berhubungan dengan Kerajaan Mataram.

Selain dibatasi Laut Selatan, di bagian utara Kebumen terdiri dari pegunungan dan bukit, sementara bagian tengahnya dataran rendah. Ketika Jawa Tengah masih dibagi menjadi Karesidenan, saat itu, Kebumen masuk dalam Karisidenan Kedu, yang meliputi Kebumen, Purworejo, Temangung, Wonosobo, dan Magelang. Namun, secara sosial budaya, sebenarnya lebih mirip dengan wilayah Karesidenan Banyumas, terutama dialek Bahasa Jawa-nya.

Bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan yang lebih sering disebut ngapak lebih kental digunakan masyarakat Kebumen, karena letaknya yang tidak jauh dari wilayah Banyumas di sebelah Baratnya. Semakin ke barat, semakin ngapak, sedangkan semakin ke timur, ngapak-nya semakin berkurang, karena mendekati Purworejo dan Yogyakarta yang menggunakan Bahasa Jawa halus.

Kebumen muasalnya dari kata bumi merujuk bumi dalam artian geo, menyiratkan arti geografis dan geologis. Secara geografis, alamnya yang terdiri dari pantai, pegunungan, dataran rendah maupun bebatuan, serta berbagai gua. Secara geologis, Kebumen memiliki museum batu batuan (taman geologi) terlengkap di Asia Pasifik dan berada di Kecamatan Karangsambung. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI) yang menangani masalah geologi juga berada di Karangsambung.

Kebumian

Seputar kebumian di Kebumen perlu ditonjolkan dan dikemas menjadi geowisata, terutama Taman Bebatuan di Karangsambung. Sayangnya, masyarakat lokal Kebumen kurang antusias dengan geowisata ini. Padahal, wisatawan mancanegara sangat antusias dengan taman batuan alam itu. Sejauh ini, yang berkunjung ke sana adalah para peneliti dari luar Kebumen dan mahasiswa geologi dari beberapa kampus di Indonesia yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Saya pernah ke musium geologi di Karangsambung. Suasananya sepi. Ketika itu, saya ditemani pemandu yang menjelaskan ihwal bebatuan itu. Koleksi batuan dan sejarahnya dijelaskan secara ilmiah di taman geologi ini. Kita bisa menjumpai wujud batuan dasar samudera, batuan dasar Pulau Jawa yang terangkat, bekas-bekas tumbukan, aneka ragam batuan. Batuan beku, sedimen, dan metamorf, yang terbentuk pada dasar samudera, sampai tepi benua yang terbentuk.

Semuanya bercampur dengan deformasi yang kuat. Morfologinya merupakan hasil interaksi antara batuan, struktur geologi, dan proses erosi, yang mencerminkan suatu pembalikan topografi, sehingga membentuk rangkaian gunung melingkar dengan lembah memanjang di tengahnya, menyerupai tapak kuda.

Selain itu, pengunjung bisa membeli aneka cindera mata dari batu mulia di arena taman batuan alam ini. Di samping itu, panorama alam di sekitarnya juga indah dan alami. Berbagai pegunungan dan batu batuan besar. Sementara, perjalanan ke arah Karangsambung dari kota Kebumen melewati lukisan alam, sesekali menyibak persawahan, juga melewati pinggir sungai yang berkelak kelok di sebelah kirinya. Di kanannya, batu-batu besar; oleh masyarakat setempat biasa disebut Batu Randa.

Mengenai kebumian, diwakili oleh daerah Karangsambung, yang merupakan suatu monumen atau taman batuan hasil evolusi bumi sejak Zaman Kapur (sekitar 120 juta tahun lalu) hingga kini. Di kawasan ini, bisa dijumpai bukti-bukti batuan hasil tumbukan Lempeng Samudera Hindia Australia dengan Lempeng Benua Eurasia. Zona tumbukan ini sekarang telah bergeser kurang lebih 312 km ke arah selatan di dasar Samudera Indonesia.

Kembali ke Asal

Sebaiknya para pelajar study tour ke Kawasan Karangsambung agar lebih dekat dengan alamnya sendiri, terutama pelajar lokal yang masih asing dengan keberadaan museum geologi berkelas dunia itu. Beberapa organisasi geologi internasional seperti GEOSEA, CCOP, IPA, dan IGCP dengan ahli kebumian dari berbagai negara seperti Inggris, Prancis, Amerika, dan Jepang, sering datang ke Karangsambung.

Keberadaannya cukup lama. Sejak 1963, di sana dipergunakan sebagai praktik lapangan para mahasiswa geologi di Indonesia. Pada 1964, didirikan Kampus Geologi Lapangan. Pada 1987 disempurnakan menjadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) Laboratorium Alam Geologi Karangsambung-LIPI.

Eksotisme Jawa Tengah bagian selatan dari sisi kebumian bisa kita dapatkan di Kebumen. Rupanya, rasa ingin tahu kita masih kurang, dibuktikan dengan masih minimnya masyarakat awam berkunjung ke Taman Geologi Karangsambung. Saat saya berkunjung ke sana, petugas menyangka, saya seorang pengajar (mungkin guru geografi), padahal saya hanya orang awam.

Kini, waktunya mengembalikan Kebumen pada definisi asalnya: kebumian. Tak hanya tempat tinggalnya Pangeran Bumidirjo atau Pangeran Mangkubumi (Kyai Bumi), namun lebih pada konteks kebumian dalam arti geologi. Karena, Kebumen memiliki kawasan taman batuan alam cukup lengkap di Karangsambung hingga diakui dunia internasional.