Dukung Gerakan Literasi Sekolah, Gunawan Trihantoro: Waktunya Para Guru Menulis Buku

Gunawan Trihantoro. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Gunawan Trihantoro. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Jeruklegi, BANYUMAS DAILY ** Pendidik dan pegiat sosial, Gunawan Trihantoro, berpandangan, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sangat berpengaruh signifikan bagi keberhasilan pendidikan, terutama di Kabupaten Cilacap. Untuk mendukungnya, ia menyarankan, para guru kini mulai menulis buku.

“Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca, pengetahuan akan bertambah. Di Indonesia, minat baca anak masih sangat rendah. Berdasarkan Data BPS tahun 2012, sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi, dan hanya sekitar 71,58 persen penduduk Indonesia yang gemar membaca,” ujarnya, Kamis (20/10/2016).

Ia menjelaskan, untuk menaikkan minat baca pada anak, khususnya buku, Gerakan Literasi Sekolah terus dilakukan di sekolah-sekolah yang ada di Cilacap, satu di antaranya SMP Negeri 1 Cilacap, tempatnya mengajar dan mendidik.

Gerakan ini dilakukan 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Para siswa dibiasakan membaca buku non-pelajaran dan buku-buku adiwiyata. Buku-buku yang dibaca bukan hanya dari perpustakaan sekolah, tapi juga buku-buku yang dibawa siswa sendiri.

“Gerakan yang dilakukan untuk menginisiasi Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tersebut sudah dilakukan setiap hari di sekolah, untuk meningkatkan kegemaran membaca para siswa dan warga sekolah,” terang Gunawan.

Literasi, sambungnya, lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, atau auditor. Dengan membiasakan diri membaca 15 menit setiap pagi, dapat menumbuhkan budi pekerti dan kedisiplinan para siswa.

Pentingnya Keteladanan

Pegiat agenda kemuhammadiyahan di Cilacap ini mengatakan, Gerakan Literasi Sekolah sangat realistis diterapkan, apabila keteladanan dibangun berkelanjutan.

“Boleh dibilang, Gerakan Literasi Sekolah sangat realistis diterapkan, dengan dukungan semua stakeholder pendidikan. Menerapkan GLS cukup dengan fasilitas perpustakaan dan keteladanan para orangtua,” kata alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.

Gunawan menambahkan, anak-anak peserta didik juga antusias. Sekira 15 menit sebelum pelajaran mereka membaca-baca buku non-pelajaran. Bahkan sekarang, anak-anak rajin membawa buku bacaan dari rumah, setiap hari.

“Artinya, Gerakan Literasi Sekolah mudah direalisasikan dan realistis untuk dikerjakan,” tandasnya.

Sementara soal hambatan, ungkap Gunawan, untuk di sekolah, ia belum melihat hambatan yang signifikan. Karena, fasilitasnya pun ada.

“Bila pun mungkin, hambatan itu adalah keteladanan para orangtua atau guru yang belum memiliki minat baca,” pungkasnya.